GoBear is now part of Finder

Finder is committed to editorial independence. While we receive compensation when you click links to partners, they do not influence our content.

Yuk, Cek Skor Literasi Keuangan Indonesia di 2020!

Seberapa percaya dirikah kamu dengan literasi keuangan yang dimiliki?

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), literasi keuangan adalah pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang mempengaruhi sikap dan perilaku untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan dalam rangka mencapai kesejahteraan.

Artinya, dengan literasi keuangan yang tinggi, keputusan yang diambil terkait pengelolaan keuangan sudah melalui pertimbangan yang matang. Termasuk dalam hal pemahaman risikonya.

Misalnya, disiplin menyisihkan penghasilan rutin untuk tabungan dan dana pensiun atau menahan diri untuk tidak memiliki catatan kredit dan cicilan untuk tujuan konsumtif. Hal ini terasa sekali manfaatnya ketika situasi ekonomi sedang serba tidak pasti, seperti saat pandemi sekarang.

Nah, kalau kamu merasa percaya diri dengan pengetahuan keuangan yang dimiliki, bagaimana posisimu di antara masyarakat Indonesia lainnya? Sebenarnya, seberapa dekat kepercayaan diri kamu dengan realitas yang ada di lapangan?

Hal ini bisa diketahui dari Financial Health Index (FHI) yang diluncurkan Finder. FHI adalah laporan hasil survei yang menunjukkan bagaimana masyarakat di Asia mengatur keuangan mereka.

Di Indonesia, survei tahunan ini dilakukan dengan mensurvei sekitar 1.000 responden di rentang usia 18-65 tahun yang memiliki akses terhadap internet. Selain Indonesia, negara lain yang juga disurvei yaitu Singapura, Hong Kong, Thailand, Filipina, dan Vietnam.

(Baca: Ternyata, Ini Lho Skor Kesehatan Keuangan Indonesia di 2020)

FHI 2020 menyebutkan skor literasi keuangan Indonesia 2020 adalah 67%, sedikit lebih baik dari tahun lalu yang sebesar 66%. Namun, ternyata skor ini belum cukup baik, apalagi jika dibandingkan skor yang diperoleh negara-negara lain.

Berdasarkan FHI 2020, kalau dibandingkan lima negara lain, Indonesia ternyata hanya lebih baik dari Vietnam yang skornya sebesar 64%. Skor literasi tertinggi dipegang oleh Singapura dengan 79%, naik dari tahun lalu yang sebesar 78%. Posisi kedua diisi Hong Kong dengan skor 72%, sama dengan tahun lalu.

Kemudian, Filipina dengan 71% dan Thailand dengan 68%. Secara keseluruhan, rata-rata skor literasi keuangan masyarakat Asia Pasifik pada 2020 adalah 70%, turun dari tahun lalu yang sebesar 71%.
Lalu, sebanyak 56% masyarakat Indonesia tercatat merasa cukup percaya diri memiliki pengetahuan finansial di atas rata-rata. Namun, ternyata jawaban yang diberikan mayoritas responden dalam survei ini justru tidak mendukung kepercayaan diri itu.

Banyak responden yang beralasan tingkat kepercayaan dirinya tinggi karena memiliki penghasilan di atas Upah Minimum Regional (UMR) atau karena memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Hal ini berbeda dengan Singapura, di mana sebagian besar responden yang merasa memiliki tingkat literasi di atas rata-rata menerangkan mereka cukup aktif berinvestasi dan mempunyai portofolio investasi yang beragam.

Padahal, hanya 45% dari responden Singapura yang merasa memiliki pengetahuan finansial di atas rata-rata. Demikian juga dengan Hong Kong, yang jumlahnya hanya 43% tetapi skor literasinya tinggi.

Hal ini menunjukkan masyarakat di kedua negara itu memiliki pengetahuan yang mencukupi dalam hal pengelolaan keuangan dan berhati-hati dalam memilih produk investasi yang baik serta sesuai profil risiko. Portofolio investasi yang beragam juga menggambarkan kalau mereka memiliki informasi mengenai jenis-jenis produk keuangan yang lebih luas, termasuk yang ada di pasar modal.

Kepercayaan diri yang berlebihan dari masyarakat Indonesia bisa berbahaya jika tidak didukung oleh informasi yang mencukupi. Penghasilan yang besar tidak selalu berbanding lurus dengan seberapa dalam pengetahuan yang dimiliki tentang produk keuangan.

Hal ini bisa berakibat fatal jika responden terkait hanya melihat iming-iming keuntungan yang diberikan dalam suatu produk investasi, tetapi tidak memahami model bisnis yang mendasari produk tersebut. Contoh yang sering terjadi adalah kasus investasi bodong berkedok koperasi, arisan, atau Multi Level Marketing (MLM).

Skor Akan Konsep dan Produk Keuangan

Berdasarkan data FHI 2020, skor literasi tertinggi responden Indonesia adalah di konsep risiko versus keuntungan, yaitu sebesar 90%. Sementara itu, skor terendah adalah di konsep likuiditas dan risiko, yang hanya sebesar 8%. Skor likuiditas dan risiko ini juga sekaligus menjadi yang terendah di Asia Pasifik.

Jika dilihat satu per satu, dari sembilan konsep literasi keuangan yang ditanyakan dalam survei, hanya ada tiga konsep di mana skor Indonesia lebih baik dari Asia Pasifik. Ketiga konsep itu adalah diversifikasi risiko dengan 89%, risiko transfer dengan skor 80%, dan konsekuensi bertumpuknya utang dengan skor 64%.

Dari sisi produk keuangan, tabungan masih menjadi produk yang paling banyak diketahui dan dimiliki masyarakat Indonesia. Dalam FHI 2020, skornya mencapai 99% atau sama dengan tahun lalu. Disusul oleh asuransi kesehatan dengan skor 90% dan asuransi jiwa dengan skor 94%. Hal ini dapat menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia cukup sadar dengan pentingnya berjaga-jaga jika ada situasi yang tidak menguntungkan atau mengancam pemenuhan kebutuhan sehari-harinya.

Skor di produk Jaminan Hari Tua (JHT) juga memperlihatkan kenaikan, dari 64% pada 2019 menjadi 66% pada tahun ini. Hal ini menggambarkan naiknya kesadaran untuk bersiap-siap menghadapi usia setelah pensiun.

Namun, untuk produk keuangan yang lebih kompleks seperti saham, obligasi, reksadana, dan produk-produk turunannya, skornya masih terbilang rendah walaupun ada kenaikan. Reksadana dan saham masing-masing memiliki skor 46% dan 43%. Artinya, makin banyak masyarakat yang melek investasi.

(Baca: Belum Melek Finansial, Ini Skor Literasi Keuangan Orang Indonesia 2019)

Perencana keuangan Tejasari Assad mengatakan masih banyak masyarakat Indonesia yang merasa tahu bermacam-macam produk keuangan tetapi tidak mau mencari tahu lebih dalam maupun merealisasikannya.

“Banyak yang hanya dengar [produk-produk finansial], tetapi tidak direalisasikan. Ujung-ujungnya, tetap hanya memilih tabungan atau tidak mau investasi,” ujarnya.

Bagaimana, apakah kamu makin melek finansial setelah melihat hasil FHI 2020? Ingat, punya penghasilan besar saja tidak berpengaruh terhadap kesejahteraan finansial pada masa depan kalau kamu tidak tahu cara mengelolanya. Nah, untuk meningkatkan literasi keuangan kamu, cek terus informasi dari Finder ya!

More guides on Finder

Ask an Expert

You are about to post a question on finder.com:

  • Do not enter personal information (eg. surname, phone number, bank details) as your question will be made public
  • finder.com is a financial comparison and information service, not a bank or product provider
  • We cannot provide you with personal advice or recommendations
  • Your answer might already be waiting – check previous questions below to see if yours has already been asked

Finder.com provides guides and information on a range of products and services. Because our content is not financial advice, we suggest talking with a professional before you make any decision.

By submitting your comment or question, you agree to our Privacy Policy and Terms.

Questions and responses on finder.com are not provided, paid for or otherwise endorsed by any bank or brand. These banks and brands are not responsible for ensuring that comments are answered or accurate.
Go to site