Finder is committed to editorial independence. While we receive compensation when you click links to partners, they do not influence our content.

Untung-Rugi Jadi Investor Pinjaman Online P2P Lending

Peer-to peer lending (P2P lending) merupakan layanan pinjaman online yang tengah naik daun. Bukan cuma sebagai penyedia pinjaman, tapi juga sebagai instrumen investasi yang potensial.

Kalau belum tahu, P2P lending adalah platform yang mempertemukan penyedia modal dengan penerima modal dalam rangka melakukan perjanjian pinjam meminjam. Penyedia modal disebut sebagai investor dan bunga pinjaman jadi profitnya.

Rata-rata penyedia P2P lending menawarkan imbal hasil mulai dari 10 hingga 20 persen per tahun. Angka ini terhitung tinggi, apalagi bila dibandingkan dengan bunga deposito dan obligasi yang kini berada pada kisaran 5-7 persen.

Tapi jangan terlena dulu. Jangan lupa pada prinsip high risk high return. Tingginya potensi profit investasi P2P lending tak lepas dari risiko yang tinggi pula. Jadi, sebelum menanam modal di instrumen satu ini, baiknya pahami dulu yuk untung-ruginya. Cek di sini!

Keuntungan investasi P2P lending

1. Potensi profit hingga 20 persen per tahun

Saat bicara investasi, pasti tak lepas dari profit atau imbal hasil yang diterima. Seperti yang telah disebutkan di atas, sejumlah investasi P2P lending menawarkan profit hingga 20 persen per tahun. Beberapa di antaranya, adalah Investree, Modalku, Koinworks, dan masih banyak lagi.

Penetapan bunga pada P2P lending dilakukan dengan melihat skor kredit atau tingkat risiko peminjam. Semakin tinggi tingkat risiko pinjaman, semakin besar potensi keuntungan yang ditawarkan. Kembali lagi, high risk high return.

Jadi kalau kamu memilih untuk mendanai debitur skor kredit yang kurang baik, imbal hasil yang ditawarkan akan lebih tinggi dibandingkan memberi dana pada debitur dengan skor kredit lancar.

(Baca:

P2P Lending Indonesia: Cara Untung Cari Pinjaman dan Investasi)

2. Investasi mudah dan murah

Berbasis teknologi, mayoritas prosedur investasi P2P lending 100 persen dilakukan secara online. Kamu bisa mendanai debitur langsung melalui gawai tanpa beranjak dari rumah.

Selain itu, syarat pendaftarannya pun cukup mudah. Pertama, kamu akan diminta membuat akun sebagai pemberi dana. Lalu, lengkapi data diri, seperti KTP dan rekening bank. Setelah verifikasi selesai, kamu sudah bisa berinvestasi.

Selanjutnya, soal modal. Kalau dulu untuk jadi investor perlu modal yang besar. Sekarang tidak harus begitu. Pada investasi P2P lending, modal yang diperlukan bahkan bisa dimulai dari Rp 100 ribu. Jadi bisa disesuaikan dengan dana yang kamu punya.

3. Turut mendukung UMKM

Pada prinsipnya, kehadiran P2P lending ditujukan untuk menyediakan pinjaman modal bagi masyarakat yang belum terjangkau bank. Model bisnis P2P lending ini pun kerap jadi solusi bagi para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang butuh bantuan modal.

Dengan demikian, sebagai penyedia dana pinjaman kamu turut membantu meningkatkan pegiat UMKM dan pelaku usaha lainnya.

Dalam menentukan debitur yang akan diberikan pinjaman dana, kamu bisa mempertimbangkan jenis usaha, riwayat pembayaran kredit oleh debitur, hingga skor kredit. Semua informasi tersebut dapat kamu akses di platform P2P lending terkait.

4. Diversifikasi investasi

Don’t put egg in one basket. Jangan letakkan semua telur dalam satu keranjang. Ungkapan tersebut sudah sering kamu dengar, kan? Dalam dunia investasi, diversifikasi penting buat dilakukan.

Ada banyak instrumen investasi yang bisa dipilih. Sebut saja, reksadana, emas, properti, obligasi, sampai saham.

Tiap jenis instrumen punya kelebihan, kriteria, dan tujuan masing-masing. Memang, untuk mencicipi instrumen investasi yang berbeda, butuh keahlian yang berbeda pula. Tapi, berkutat hanya di satu jenis instrumen cukup berisiko. Jika satu jenis instrumen sedang anjlok, kamu tak punya instrumen lain yang bisa menutupi kerugian.

Selain itu, dengan tujuan keuangan yang berbeda, sudah sewajarnya jika pilihan investasinya pun berbeda. Misalnya, untuk tujuan keuangan jangka pendek, investasi yang likuid seperti reksadana tentu lebih disarankan ketimbang investasi properti.

Nah, kehadiran P2P lending dapat menjadi pilihan instrumen investasi sehingga terjadi diversifikasi. Kamu juga dapat melakukan diversifikasi di dalam investasi P2P lending.

Misalnya, dengan menempatkan dana di beberapa platform P2P yang berbeda ataupun menyebar dana pinjaman kepada debitur yang berbeda dalam platform P2P yang sama.

(Baca:

Butuh Pinjaman Online, Pilih P2P Lending atau Payday Loan?)

5. Aman dan terpercaya

Bagi para calon investor, penipuan berkedok investasi bodong adalah hal yang paling ditakutkan. Betul tidak? Untuk itu, para investor harus ekstra jeli dalam menempatkan dana investasi.

Bagaimana dengan investasi di P2P lending?

Meski terbilang baru, P2P lending sudah resmi diatur dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 2016. Regulasi layanan pinjaman uang berbasis teknologi seperti P2P lending dimuat dalam POJK Nomor 77/POJK.01/2016.

Jadi, layanan P2P lending ini dijamin aman dan terpercaya. Dengan syarat, sudah terdaftar dan berada di bawah pengawasan OJK. Untuk mengeceknya, kamu bisa langsung menuju situs resmi OJK.

Risiko investasi P2P lending

Aman dan terpercaya tak berarti bebas risiko dan pasti untung. Tiap jenis investasi pasti punya risiko. Begitu pun dengan P2P lending. Berikut ini beberapa di antaranya.

1. Risiko likuiditas

Investasi di P2P lending sama halnya dengan meminjamkan uang kepada orang lain. Seluruh modal investasi beserta keuntungannya hanya bisa diperoleh jika debitur sudah membayar pinjaman secara lunas.

Alhasil, jika butuh dana cair, kamu tak bisa menarik pinjaman sewaktu-waktu. Tentunya, kamu perlu menunggu pembayaran dilakukan sesuai tenor yang disepakati.

Oleh sebab itu, gunakanlah uang dingin alias dana menganggur untuk investasi di P2P lending. Jadi kamu tak perlu khawatir sekalipun dana investasi tak bisa cair seketika.

2. Risiko gagal bayar

Kamu tentu bisa menebak risiko terbesar saat meminjamkan uang kepada orang lain. Ya! Gagal bayar alias kredit macet. Bukan tak mungkin dan bahkan sering terjadi debitur mengalami kesulitan finansial sehingga pembayaran menunggak bahkan hingga gagal bayar.

Pada kondisi ini, dana investasi bisa tertunda lama untuk kembali atau bahkan lenyap begitu saja. Sebab, kerugian investasi akibat debitur gagal bayar sepenuhnya ditanggung oleh debitur.

Sebagai langkah mitigasi risiko, lakukan analisis hasil evaluasi atau informasi mengenai calon debitur yang diberikan penyedia platform P2P lending sebaik mungkin. Bangun portfolio sesuai profil risiko. Jangan lupa lakukan diversifikasi agar potensi kerugian dapat ditekan.

Selain itu, kamu juga bisa mengantisipasi kerugian dengan menggunakan asuransi kredit yang disediakan penyedia layanan P2P lending. Misalnya, asuransi Dana Proteksi pada Koinworks. Dengan begitu, apabila debitur gagal bayar, kerugian tak perlu ditanggung sendiri.

3. Risiko platform P2P bangkrut

Fintech kian marak, persaingan jelas semakin ketat. Perusahaan yang kalah strategi, tak sedikit yang gulung tikar. Kalau layanan P2P lending bubar di tengah jalan, lalu siapa yang bertanggung jawab terhadap dana investasinya?

Merujuk kepada regulasi OJK di atas, perusahaan P2P lending terkait harus bertanggung jawab jika perusahaan kolaps yang disebabkan oleh kelalaian pihak penyelenggara.

Meski begitu, prosedur pengembalian dana investasi bakal sulit buat dilakukan. Apalagi jika situs atau platform P2P lending sudah tak beroperasi. Kamu pun bakal kesulitan buat memantau pembayaran yang dilakukan debitur.

Oleh sebab itu, kamu harus jeli dalam memilih layanan penyedia P2P lending. Bukan hanya telah terdaftar di OJK, tapi pastikan juga platform P2P lending yang dipilih memang kredibel dan punya kinerja bagus.

Itulah untung rugi investasi di pinjaman online P2P lending. Bagi kamu yang khawatir terdapat riba dalam keuntungan yang diperoleh, terdapat P2P lending syariah yang bisa dicoba.

Bagaimana? Tertarik buat investasi di P2P lending?

More guides on Finder

Ask an Expert

You are about to post a question on finder.com:

  • Do not enter personal information (eg. surname, phone number, bank details) as your question will be made public
  • finder.com is a financial comparison and information service, not a bank or product provider
  • We cannot provide you with personal advice or recommendations
  • Your answer might already be waiting – check previous questions below to see if yours has already been asked

Finder.com provides guides and information on a range of products and services. Because our content is not financial advice, we suggest talking with a professional before you make any decision.

By submitting your comment or question, you agree to our Privacy Policy and Terms.

Questions and responses on finder.com are not provided, paid for or otherwise endorsed by any bank or brand. These banks and brands are not responsible for ensuring that comments are answered or accurate.
Go to site