GoBear is now part of Finder

Finder is committed to editorial independence. While we receive compensation when you click links to partners, they do not influence our content.

Resesi Ekonomi Datang, Apa yang Harus Dilakukan?

Berita tentang resesi ekonomi sering sekali ditemui di media massa selama seminggu terakhir. Tapi, sebenarnya apa sih resesi ekonomi itu dan bagaimana dampaknya kepada masyarakat umum? Apakah ada tips keuangan yang perlu diperhatikan untuk menghadapi kondisi ekonomi yang makin tidak pasti?

Pemerintah mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali minus pada kuartal ketiga 2020, dengan perkiraan antara -2,9% sampai -1%. Hal ini membuat ekonomi Indonesia resmi masuk zona resesi, setelah pada kuartal II/2020 pertumbuhan ekonomi kita -5,32%.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa bukannya naik, ekonomi nasional justru turun sampai level minus. Artinya, roda ekonomi tidak lagi berputar.

Pertumbuhan ekonomi yang negatif selama dua kuartal berturut-turut, alias selama enam bulan, adalah pengertian resesi yang paling sering digunakan. Namun, mengutip Forbes, National Bureau of Economic Research (NBER) Amerika Serikat (AS) mendefinisikan resesi sebagai penurunan aktivitas ekonomi secara signifikan di berbagai sektor dan berlangsung selama berbulan-bulan. Ini dapat terlihat di Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB), pendapatan riil, tingkat lapangan kerja, produksi industri, dan penjualan ritel grosir.

Dari dua pengertian ini, kesimpulannya adalah resesi terjadi ketika ada penurunan aktivitas ekonomi secara drastis selama beberapa waktu.

Terbatasnya aktivitas masyarakat di luar ruang, termasuk untuk bekerja, demi memutus penyebaran wabah virus corona membuat sektor-sektor usaha yang biasanya beroperasi menjadi terganggu atau bahkan berhenti dan tutup. Karyawan yang biasanya bekerja dengan normal sekarang bisa jadi tidak lagi memiliki pekerjaan karena perusahaannya tutup. Pemilik restoran atau pedagang kaki lima bisa jadi omzetnya tiba-tiba turun drastis karena tidak ada konsumen yang datang.

Secara umum, mengutip Antara, ada beberapa dampak resesi yang bisa dirasakan oleh masyarakat. Pertama, nilai tukar rupiah tidak stabil dan membuat rupiah melemah, yang kemudian bisa berujung pada turunnya aktivitas ekspor impor, naiknya suku bunga, serta tingginya angka inflasi.

Melemahnya rupiah bisa mengakibatkan naiknya harga barang, baik yang diimpor maupun yang diproduksi di dalam negeri jika bahan bakunya berasal dari luar negeri. Dengan naiknya harga, maka kamu harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendapatkan barang yang sama dan akibatnya inflasi pun naik.

Pada akhirnya kalau rupiah sudah terlalu lemah, Bank Indonesia (BI) bisa menaikkan suku bunga demi menstimulus masuknya investor asing. Nah, langkah ini bisa memicu naiknya suku bunga kredit di perbankan atau lembaga keuangan lain. Artinya, bisa saja suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) kamu naik tiba-tiba tanpa pengumuman.

Kedua, naiknya tingkat pengangguran karena jumlah pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terus bertambah. Para pelaku usaha pasti akan melakukan efisiensi untuk menekan biaya operasional. Kalau pengeluaran di pos-pos lain sudah dihemat sampai maksimal tetapi hasilnya tetap “berdarah-darah”, pengurangan karyawan bisa jadi masuk pertimbangan.

Ketiga, daya beli masyarakat turun. Kalau pemasukan kamu turun karena gaji dipotong atau bahkan di-PHK, sudah pasti kemampuan kamu membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari ikut berkurang. Barang yang biasanya langsung masuk keranjang belanjaan, bisa saja nantinya terpaksa kamu coret dari daftar belanja demi berhemat.

Anggaran hiburan pun bisa saja dipotong atau bahkan hilang seluruhnya supaya kamu tidak besar pasak daripada tiang. Pos hiburan ini bisa merujuk ke anggaran liburan rutin atau alokasi layanan streaming video dan musik.

Resesi memang terlihat menyeramkan. Tapi, bukan berarti tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk meminimalisir dampaknya.

Apa yang perlu dilakukan?

Resesi ekonomi memang tidak bisa dihindari. Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengalami hal ini. Sebelumnya, sudah ada Singapura, Korea Selatan, Hong Kong, AS, Jerman, dan sederet negara besar lainnya.

Nah, untuk membantu kamu mengatasi kondisi ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Berikut tipsnya:

1. Atur ulang keuangan

Kalau pendapatan kamu berkurang, artinya kamu harus mengatur ulang prioritas pengeluaran. Pilah-pilah lagi pos pengeluaran mana yang harus diutamakan dan mana yang bisa ditekan atau bahkan dihilangkan untuk sementara waktu.

Yang pasti, kebutuhan pokok dan tagihan rutin jangan sampai terganggu. Lalu, dana investasi bisa kamu alokasikan dulu untuk kebutuhan lain yang lebih penting, biaya transportasi bisa dipangkas atau dialihkan ke pos internet, dan anggaran nongkrong cantik langsung masuk ke pos tabungan atau anggaran belanja bahan makanan.

Persentase dari tiap pos ini bisa berbeda-beda tiap orang. Sesuaikan saja dengan penghasilan dan kebutuhan kamu. Tapi ingat, kalau kondisi keuangan kamu masih positif, jangan sampai lupa menabung dan sisihkan untuk sedekah serta investasi ya!

2. Jangan lapar mata

Bukan rahasia kalau situs belanja online selalu memiliki tawaran menggoda dengan berbagai promo. Tapi, kalau barang yang kamu inginkan tidak termasuk kebutuhan mendesak atau kebutuhan pokok, tahan diri dulu ya.

Membeli barang dengan harga diskon, walaupun barang itu tidak kamu perlukan, tetap saja berarti kamu mengeluarkan uang. Apalagi, kalau barang yang dibeli tidak kamu butuhkan. Sebelum berbelanja barang yang tak perlu, bayangkan kalau tabungan kamu bisa bertambah menjadi nominal tertentu dengan jumlah dana yang sama.

3. Jangan mengambil cicilan baru

Tidak ada yang tahu kapan kondisi ekonomi yang serba tidak pasti seperti sekarang akan berakhir. Lebih baik hindari mengambil pinjaman baru supaya kamu tidak menyesal nantinya karena tidak bisa membayar cicilan. Apalagi, kalau nilai pinjamannya besar dan hanya masuk kategori kebutuhan sekunder atau tersier.

Hal ini juga berlaku untuk penggunaan kartu kredit. Untuk sementara, jauhkan kartu kredit kamu dari jangkauan atau hapus data kartu kredit dari situs-situs belanja online langganan supaya kamu tidak tergoda berbelanja barang-barang yang tidak perlu.

4. Ajukan relaksasi kredit

Kalau kamu sudah memiliki cicilan KPR, kredit kendaraan bermotor, atau kredit modal usaha, kamu bisa mengajukan relaksasi kredit ke bank atau lembaga keuangan terkait. Manfaatkan program restrukturisasi kredit dari pemerintah supaya angsuran kamu bisa lebih ringan atau bahkan dibebaskan untuk sementara waktu. Cek langsung program nasional ini ke bank atau lembaga keuangan tempat kamu mendapatkan pinjaman ya.

5. Cari penghasilan tambahan

Walaupun kondisi sekarang serba terbatas, tetapi masih ada peluang untuk membangun bisnis atau mendapatkan penghasilan tambahan dengan pekerjaan paruh waktu maupun freelance. Apalagi, di sektor-sektor yang bisa dijalankan secara online.

Kamu bisa mulai berjualan bahan makanan cepat saji atau frozen food di marketplace, menyediakan jasa katering mingguan atau bulanan, memanfaatkan hobi fotografi untuk berjualan jasa foto secara online, menjadi content creator atau content writer freelance, menjual kopi racikan sendiri, menjual sayur-sayuran segar dari hobi hidroponik, dan lain-lain. Tetaplah kreatif untuk memanfaatkan keahlian dan koneksi yang kamu miliki.

6. Tetap optimis dan bahagia

Mungkin kondisi kamu saat ini berubah dari yang tadinya baik-baik saja menjadi serba terbatas. Mungkin juga kamu masih baik-baik saja karena tidak ada perubahan dalam hal status pekerjaan maupun besaran penghasilan. Yang manapun, jangan lupa bahagiakan dirimu sendiri ya. Mental yang sehat akan memperkuat pertahanan diri kamu dari tekanan, termasuk dalam hal keuangan, sehingga bisa mengurangi stres.

Kalau anggaranmu sudah pas-pasan, atau bahkan defisit, tetap tarik nafas dan berhenti sejenak dari rutinitas. Hibur diri dengan menonton film atau serial kesayangan, sesi karaoke pribadi di kamar atau kamar mandi, olahraga, tidur siang yang nyenyak, atau bahkan browsing situs belanja online–asal jangan sampai berakhir di transaksi. Anggap saja kamu sedang mengisi ulang daya tubuh.

Situasi ekonomi sekarang memang bisa membuat kita serba salah, termasuk dalam mengatur keuangan. Tapi, jangan merasa terpuruk terlalu lama ya supaya kamu bisa menyusun strategi yang tepat untuk mengatasinya. Ikuti terus tips dari Finder untuk membantu kamu menghadapi resesi ekonomi ini.

More guides on Finder

Ask an Expert

You are about to post a question on finder.com:

  • Do not enter personal information (eg. surname, phone number, bank details) as your question will be made public
  • finder.com is a financial comparison and information service, not a bank or product provider
  • We cannot provide you with personal advice or recommendations
  • Your answer might already be waiting – check previous questions below to see if yours has already been asked

Finder.com provides guides and information on a range of products and services. Because our content is not financial advice, we suggest talking with a professional before you make any decision.

By submitting your comment or question, you agree to our Privacy Policy and Terms.

Questions and responses on finder.com are not provided, paid for or otherwise endorsed by any bank or brand. These banks and brands are not responsible for ensuring that comments are answered or accurate.
Go to site