GoBear is now part of Finder

Finder is committed to editorial independence. While we receive compensation when you click links to partners, they do not influence our content.

Memanfaatkan Subsidi Pemerintah Selama Pandemi, Kenapa Tidak?

Melambatnya ekonomi akibat pandemi Covid-19 menjadi tantangan bagi kehidupan finansial masyarakat Indonesia. Tidak sedikit yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari akhirnya harus memanfaatkan subsidi pemerintah.

Laporan Financial Health Index (FHI) 2020 yang belum lama ini diluncurkan GoBear bahkan menunjukkan jumlah warga yang bergantung ke subsidi pemerintah meningkat. Jumlah masyarakat yang mengandalkan bantuan dari pemerintah sebagai salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan naik dari 5% pada 2019, menjadi 9% pada tahun ini.

Hal ini sejalan dengan kondisi yang terjadi di berbagai wilayah lainnya di Asia, utamanya di Singapura, Hong Kong, dan Thailand. Jumlah penduduk Singapura yang mengandalkan bantuan pemerintah bahkan meningkat menjadi 19%, yang tertinggi di Asia, dari sebelumnya 11%.

Sebagai informasi, FHI adalah laporan hasil survei yang menunjukkan bagaimana masyarakat di Asia mengatur keuangan mereka. Di Indonesia, survei tahunan ini dilakukan atas sekitar 1.000 responden di rentang usia 18-65 tahun yang memiliki akses terhadap internet. Selain Indonesia, negara lain yang juga disurvei yaitu Singapura, Hong Kong, Thailand, Filipina, dan Vietnam.

Dalam laporan tersebut, sebanyak 66% responden mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi yang tidak stabil menjadi ancaman utama bagi keamanan keuangan mereka saat ini. Jumlah ini meningkat dari 45% pada tahun lalu. Artinya, pandemi Covid-19 memiliki dampak yang cukup besar terhadap kondisi finansial masyarakat Indonesia.

Lebih lanjut, sebanyak 43% masyarakat Indonesia menyatakan pandemi Covid-19 sangat mengancam kondisi keuangan mereka saat ini. Kemudian, sebanyak 39% mengatakan pandemi sebagai ancaman moderat dan hanya 19% yang merasa covid-19 bukan sebagai ancaman atau hanya merupakan ancaman rendah.

(Baca:

Waduh, Keamanan Keuangan Orang Indonesia Turun karena Corona)

Jika dilihat lebih detail dari jumlah pendapatan yang diterima, para penerima subsidi pemerintah tahun ini cukup merata di seluruh kelompok pendapatan. Kenaikan tertinggi terjadi di kelompok pendapatan Rp 4-6,99 juta yang meningkat dari 5% menjadi 10% pada 2020.

Kemudian, di kelompok pendapatan Rp 7 juta-9,99 juta, terjadi kenaikan dari 7% menjadi 9%. Bahkan, di kelompok yang berpendapatan di atas Rp 10 juta, jumlahnya meningkat dari 4% pada 2019 menjadi 9%.

Hal ini cukup menunjukkan bahwa dampak pandemi Covid-19 dirasakan oleh berbagai kalangan. Apalagi, tidak sedikit masyarakat yang penghasilannya berkurang karena gaji dipotong atau bisnisnya melambat karena permintaan turun.

Selain menerima bantuan pemerintah, tiga metode yang paling banyak dilakukan untuk menutup pengeluaran adalah dengan menekan pengeluaran (67%), menggunakan dana darurat (62%), bekerja lembur atau mencari sampingan (38%).

subsidi pemerintah

Bentuk Subsidi Pemerintah Selama Pandemi Covid-19

Nah, bantuan yang diberikan pemerintah ini jenisnya beragam, mulai dari uang tunai, sembako, sampai insentif. Selain disalurkan kepada masyarakat biasa, ada juga yang diberikan kepada pegawai pemerintah serta pelaku usaha. Apa saja perinciannya?

1. Bantuan sembako

Bantuan sembako diberikan kepada warga yang tinggal di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek). Mengutip Kompas.com, untuk wilayah Jakarta saja, sebanyak 1,2 juta keluarga mendapat paket sembako bernilai Rp 600 ribu per bulan.

Kemudian, untuk wilayah Bodetabek, disalurkan ke 1,6 juta jiwa atau 576.000 keluarga. Nilainya sama dengan yang diterima penduduk Jakarta, yaitu Rp 600 ribu.

Program ini awalnya direncanakan diberikan selama April-Juni, tetapi diputuskan untuk diperpanjang sampai Desember 2020. Nilainya juga diturunkan separuh menjadi Rp 300 ribu per bulan.

2. Bantuan Langsung Tunai (BLT)

BLT disalurkan sejak awal pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia. Sesuai namanya, BLT diberikan dalam bentuk uang tunai. Berbeda dengan bantuan sembako, BLT menyasar warga di luar Jabodetabek.

Penerima juga memenuhi syarat tertentu, yaitu belum menerima bantuan sosial (bansos) lain seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), maupun Kartu Prakerja.

Nilai bantuannya sama dengan bantuan sembako, yaitu Rp 600 ribu per bulan, dan diberikan selama April-Juni. Tapi, sama seperti bantuan sembako, program ini diperpanjang sampai Desember 2020 dan nilainya diturunkan menjadi Rp 300 ribu per bulan.

3. Kartu Prakerja

Program ini sempat menjadi pembicaraan hangat di masyarakat karena ada berbagai kontroversi yang menyertainya, di antaranya program pelatihan yang dinilai tidak pas. Di luar itu, program ini menjadi salah satu bentuk penyaluran bantuan dari pemerintah dalam bentuk insentif kepada karyawan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), pengangguran, maupun pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang terdampak pandemi.

Para peserta akan mendapat insentif senilai total Rp 3,55 juta, yang terbagi dalam tigabagian. Pertama, biaya pelatihan sebesar Rp 1 juta. Kedua, insentif pascapelatihan sebesar Rp 600 ribu per bulan selama empatbulan. Ketiga, insentif survei kebekerjaan senilai total Rp 150 ribu.

Pemerintah menyatakan per 8 Oktober 2020, jumlah pendaftar program ini sudah mencapai 35,1 juta orang. Tapi, hanya 5,59 juta orang yang lolos seleksi dan bisa mengikuti program tersebut.

4. Subsidi gaji karyawan

Ada lagi program subsidi gaji karyawan, yang ditujukan bagi karyawan swasta dan pegawai honorer. Program ini khusus bagi karyawan yang terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan dengan gaji di bawah Rp 5 juta.

Besaran bantuan yang diberikan adalah Rp 600 ribu per bulan selama 4 bulan. BPJS Ketenagakerjaanmenyebutkan ada 15,7 juta pekerja calon penerima bantuan ini.

5. Insentif tarif listrik

Insentif ini diberikan dalam bentuk pembebasan tagihan, diskon listrik, penghapusan biaya minimum, sampai penghapusan abonemen. Bantuan tidak hanya diberikan kepada pelanggan rumah tangga, tetapi juga kepada pelaku UMKM. Total anggaran yang disiapkan mencapai Rp 15,39 triliun.

6. Bantuan presiden UMKM

Selain para pegawai yang terdampak pandemi, pengusaha UMKM juga menjadi target bantuan pemerintah. Melalui bantuan presiden (banpres) UMKM, pelaku usaha yang lolos seleksi akan mendapat bantuan senilai Rp 2,4 juta. Program ini dialokasikan untuk 12 juta UMKM.

7. Bantuan pulsa bagi Aparat Sipil Negara (ASN)

Para ASN tidak luput dari bantuan pemerintah, dengan adanya tunjangan tambahan antara Rp 200-400 ribu. Tapi, bantuan hanya diberikan kepada ASN setingkat eselon I dan II/yang setara, serta setingkat eselon II/setara ke bawah. Bantuan ini hanya diberikan selama September-Desember 2020.

8. Bantuan kuota internet

Dengan meningkatnya kebutuhan terhadap internet, pemerintah memberikan bantuan paket data kepada siswa, guru, mahasiswa, dan dosen. Bantuan ini disalurkan selama September-Desember 2020. Besaran kuotanya berbeda-beda, mulai dari 35GB untuk pelajar, 42GB untuk guru, dan 50GB untuk mahasiswa serta dosen.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaanmenyebutkan ada 28,5 juta nomor ponsel penerima bantuan kuota ini pada September 2020. Jumlahnya bertambah 7,2 juta nomor menjadi 35,7 juta nomor pada Oktober 2020.

Berbagai bantuan ini termasuk dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), yang total anggarannya mencapai Rp 695,2 triliun. Stimulus-stimulus yang disalurkan tidak hanya diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, tetapi juga menggerakkan ekonomi karena masyarakat tetap berbelanja.

Program seperti ini tidak hanya dilakukan di Indonesia, tetapi juga di banyak negara yang dampak pandeminya terasa cukup parah. Tidak perlu kecil hati kalau kamu menjadi salah satu penerima bantuan subsidi pemerintah karena kondisi keuanganmu tidak mendukung. Situasi ini justru bisa menjadi dorongan untuk mencari penghasilan tambahan atau pekerjaan yang lebih baik.

(Baca:

Ternyata, Ini Lho Skor Kesehatan Keuangan Indonesia di 2020)

More guides on Finder

Ask an Expert

You are about to post a question on finder.com:

  • Do not enter personal information (eg. surname, phone number, bank details) as your question will be made public
  • finder.com is a financial comparison and information service, not a bank or product provider
  • We cannot provide you with personal advice or recommendations
  • Your answer might already be waiting – check previous questions below to see if yours has already been asked
Finder.com provides guides and information on a range of products and services. Because our content is not financial advice, we suggest talking with a professional before you make any decision.

By submitting your comment or question, you agree to our Privacy Policy and Terms.

Questions and responses on finder.com are not provided, paid for or otherwise endorsed by any bank or brand. These banks and brands are not responsible for ensuring that comments are answered or accurate.
Go to site