Finder is committed to editorial independence. While we receive compensation when you click links to partners, they do not influence our content.

Ketahui Perbedaan Deposito Berjangka dan Sertifikat Deposito

Mendengar kata deposito, kamu mungkin tak sampai mengerutkan alis ya. Produk perbankan ini memang sudah cukup dikenal bagi banyak orang.

Namun kalau masih bingung, tak perlu malu. Deposito memang berbeda tipis dengan tabungan biasa sehingga mungkin jadi tampak serupa.

Perbedaan yang cukup mencolok adalah dana deposito tak bisa ditarik sewaktu-waktu, ada tenor jatuh tempo yang disepakati di awal pembukaan rekening.Imbalannya, suku bunga yang bisa diperoleh lebih tinggi daripada bunga tabungan pada umumnya.

Sebagai gambaran, suku bunga deposito berkisar antara 4-6 persen. Jika suku bunga acuan atau suku bunga BI (Bank Indonesia) sedang bagus, bunga deposito bisa menembus lebih dari 6,5 persen.

Sementara itu, suku bunga tabungan berkisar mulai dari 0 hingga 2 persen per bulan. Selain tergerus inflasi, sangat mungkin bunga tabungan bisa tak sebanding dengan biaya administrasi rekening tabungan.

Tapi ya wajar saja, tabungan adalah produk simpanan bukan instrumen investasi. Peruntukannya memang untuk penempatan dana yang aman dan bisa ditarik ketika diperlukan. Sedikit berbeda dengan deposito yang juga bisa ditujukan sebagai produk investasi.

Jika disandingkan dengan produk investasi lainnya, seperti saham dan reksadana, deposito mungkin terdengar lebih familiar. Betul tidak?

(Baca:

Deposito BCA: Cara Buka dan Apa Saja Keuntungannya)

Tapi, apakah kamu sudah cukup akrab dengan istilah sertifikat deposito?

Meski sama-sama deposito, prinsip sertifikat deposito jauh berbeda dengan deposito berjangka atau deposito yang biasa kita kenal. Biar tidak tertukar, yuk kita bahas saja perbedaan keduanya melalui ulasan berikut ini.

Perbedaan deposito berjangka dan sertifikat deposito

Saat ingin membuka deposito, biasanya kamu akan mendatangi kantor cabang bank terdekat, lalu mengambil nomor antrean customer service. Apabila semua persyaratan telah terpenuhi, customer service akan membuka rekening deposito.

Terakhir, kamu akan mendapatkan bukti kepemilikan deposito berupa slip yang memuat dana dan tanggal jatuh tempo. Bukti inilah yang digunakan untuk melakukan proses pencairan dana nantinya.

Tak sedikit yang menganggap bahwa bukti kepemilikan deposito inilah yang disebut sebagai sertifikat deposito. Tapi, tentu saja bukan. Bukti kepemilikan deposito disebut juga sebagai bilyet deposito. Dokumen ini diperlukan untuk mencairkan deposito kelak.

Kalau begitu, apa itu sertifikat deposito?

Sertifikat deposito adalah instrumen utang yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan lain kepada investor. Deposito jenis ini berbentuk sertifikat tanpa mencantumkan nama pemilik atau disebut sebagai atas unjuk. Artinya, di dalam sertifikat tidak tertulis nama seseorang maupun badan hukum tertentu.

Dengan begitu, siapa pun yang memegang sertifikat deposito dapat mencairkan dananya. Berbeda dengan deposito berjangka yang hanya bisa diakses oleh pemilik rekening tersebut.

Selain itu, terdapat perbedaan yang cukup besar antara deposito berjangka dan sertifikat deposito. Berikut penjelasannya.

1. Perbedaan perhitungan bunga

Pada deposito berjangka, perhitungan dan pembayaran bunga akan dilakukan pada akhir jatuh tempo.

Tapi, kamu dapat menentukan apakah bunga yang diperoleh dicairkan bersama pokok deposito atau hanya mencairkan bunga sementara deposito pokok dana diperpanjang secara otomatis (deposito automatic roll over (ARO)).

Atau bisa juga memperpanjang masa deposito lengkap dengan bunga yang sudah didapatkan (ARO plus). Pilihan terakhir tentu memberikan keuntungan yang lebih tinggi.

Sementara itu, perhitungan dan pembayaran bunga pada sertifikat deposito dilakukan sejak awal pembukaan. Ini berarti, kamu sudah tahu sejak awal berapa total nilai dana yang bisa diperoleh nantinya.

Kamu juga tidak bisa memperpanjang masa deposito sehingga harus mencairkan dana sesuai waktu yang ditetapkan.

(Baca:

Cara Menghitung Bunga Deposito Secara Sederhana)

2. Status kepemilikan deposito

Seperti yang disebutkan di awal, pada sertifikat deposito tidak mencantumkan nama pemilik. Sertifikat deposito dapat menjadi aset yang bisa dipindahtangankan, diperjualbelikan, atau dijadikan agunan pinjaman.

Ibarat gift card berbunga, kamu juga bisa menghadiahkan sertifikat deposito untuk kolega, kerabat atau bahkan sebagai mahar pernikahan.

Di sisi lain, mudahnya memindahtangankan sertifikat deposito ini adalah sebuah kelemahan. Sertifikat deposito menjadi rentan hilang ataupun dicuri. Sebab, jika jatuh ke tangan orang lain, sertifikat deposito bisa dengan mudah dicairkan.

Mau tidak mau, kamu harus ekstra hati-hati dalam menyimpan sertifikat deposito. Sama halnya jika kamu berinvestasi logam mulia dan ingin menyimpan fisiknya di dalam rumah.

Namun, apabila tak ingin menyimpan sendiri, kamu bisa menitipkan di kotak deposit bank dengan membayar biaya sewa penitipan.

Sebaliknya, status kepemilikannya deposito berjangka bersifat tetap dan tak dapat dipindahtangankan. Jika ingin memberikan dana deposito kepada orang lain, kamu harus menunggu jatuh tempo dan mencairkan dananya terlebih dulu. Kecuali, kamu telah menyerahkan surat kuasa atau setelah meninggal dunia sehingga dana deposito bisa diwariskan kepada ahli waris.

Memilih deposito sebagai instrumen investasi

Memilih instrumen investasi itu susah-susah gampang. Tiap instrumen keuangan punya karakter, potensi keuntungan dan risiko yang berbeda. Beda tujuan investasi, beda pula instrumen yang cocok buat dipilih.

Lalu, kapan sebaiknya memilih berinvestasi di deposito berjangka atau sertifikat deposito?

Suku bunga deposito jelas lebih tinggi dibandingkan suku bunga produk tabungan biasa. Memang, terdapat instrumen investasi lain dengan potensi imbal hasil yang tinggi. Sebut saja obligasi, saham, dan reksadana.

Tapi, jangan lupakan hukum high risk high return. Meski bunga deposito bisa dikalahkan potensi keuntungan instrumen investasi lain, risiko deposito terbilang paling rendah.

Dana deposito dijamin oleh lembaga penjamin simpanan (LPS) dengan nilai penjaminan sebesar Rp 2 miliar dengan tingkat suku bunga tertinggi 7,5 persen.

Jika terjadi hal tak diharapkan pada bank tempat kamu menyimpan deposito, seperti kebangkrutan, dana deposito milikmu akan digantikan oleh LPS sepenuhnya dengan maksimal dana Rp 2 miliar.

Tapi bukan investasi namanya kalau tanpa risiko, bukan? Saat suku bunga BI lesu, bunga deposito yang jadi lebih rendah pun bisa tergerus inflasi.

Selain itu, risiko yang paling sering terjadi pada deposito adalah nasabah mengambil dana sebelum jatuh tempo sehingga terkena penalti atau kehilangan bunga deposito.

Untungnya, zaman sekarang produk deposito lebih bervariasi. Tenor yang ditawarkan bahkan tersedia mulai dari satu bulan dengan penempatan dana mulai dari Rp 1 juta.

Dengan pertimbanga tersebut, deposito dapat dipilih untuk tujuan investasi jangka pendek atau kurang dari tiga tahun. Misalnya, untuk menyiapkan dana pernikahan.

Hal yang sama juga berlaku dengan sertifikat deposito. Bedanya, dapat dikatakan sertifikat deposito punya kegunaan yang lebih beragam. Karena tak memiliki status kepemilikan, sertifikat deposito dapat dijadikan sebagai investasi, hadiah, hingga warisan.

Sebagai investor, sertifikat deposito juga terbilang lebih likuid. Sebab, sekalipun memiliki tenor pencairan seperti deposito berjangka, sertifikat deposito dapat dijual setiap saat di pasar uang.

Berencana berinvestasi deposito dalam waktu dekat? Kalau iya, pastikan hanya membuka deposito di bank yang dijamin LPS. Untuk menghindari kasus penipuan bilyet maupun sertifikat deposito bodong, jangan tergoda dengan tawaran bunga yang melambung tinggi sekalipun dari pegawai bank.

More guides on Finder

Ask an Expert

You are about to post a question on finder.com:

  • Do not enter personal information (eg. surname, phone number, bank details) as your question will be made public
  • finder.com is a financial comparison and information service, not a bank or product provider
  • We cannot provide you with personal advice or recommendations
  • Your answer might already be waiting – check previous questions below to see if yours has already been asked

Finder.com provides guides and information on a range of products and services. Because our content is not financial advice, we suggest talking with a professional before you make any decision.

By submitting your comment or question, you agree to our Privacy Policy and Terms.

Questions and responses on finder.com are not provided, paid for or otherwise endorsed by any bank or brand. These banks and brands are not responsible for ensuring that comments are answered or accurate.
Go to site