GoBear is now part of Finder

Finder is committed to editorial independence. While we receive compensation when you click links to partners, they do not influence our content.

Investasi Saham? Ini 11 Hal yang Wajib Diketahui Investor Pemula

Instrumen investasi banyak macamnya, termasuk di saham. Kalau kamu sudah memantapkan hati untuk memulai investasi saham, apa saja langkah-langkah yang harus diperhatikan? Kalau kamu termasuk investor pemula, ada 11 hal penting yang perlu kamu pahami sebelum mulai berinvestasi.

Saham cenderung memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan investasi lain, seperti emas, obligasi pemerintah, atau bahkan reksadana. Namun, tidak sedikit orang yang justru senang dengan risiko ini atau bersedia menanggung risiko besar demi keuntungan yang juga besar.

Per 14 Agustus 2020, jumlah investor pasar modal Indonesia sudah menembus 3 juta investor.Dan spanjang tahun ini, sudah ada 46 perusahaan baru yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan demikian, total ada 709 perusahaan yang sahamnya bisa kamu pilih untuk dijadikan aset investasi.

Lalu, bagaimana caranya berinvestasi saham bagi pemula? Ini 11 hal penting yang wajib kamu ketahui kalau mau investasimu aman dan cuan.

1. Apa itu saham?

Sebelum mengeluarkan uang untuk berinvestasi di saham, tentunya kamu harus lebih dulu paham apa itu saham. Menurut BEI, saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan penyertaan modal ini, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan dan aset perusahaan terkait serta berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Intinya, dengan memiliki saham suatu perusahaan, maka kita menjadi salah satu pemilik perusahaan tersebut. Kita berhak mengetahui apa saja rencana bisnis perusahaan tersebut dan mendapat bagian dari laba yang diperoleh. Selain itu, tentunya kita juga ikut menghadapi risiko yang sama dengan yang dihadapi oleh perusahaan itu.

Besaran harga saham tiap perusahaan akan berbeda-beda, yang merefleksikan kinerja keuangan dan fundamental perusahaan terkait.

2. Apa saja keuntungan saham?

Seperti disebutkan sebelumnya, karena saham merupakan salah satu jenis instrumen investasi, maka tentu ada untung dan risiko yang bisa diperoleh. Keuntungan yang dapat diperoleh investor dengan memiliki saham ada dua, yaitu dalam bentuk dividen dan capital gain.

Dividen adalah pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dari hasil laba yang diperoleh selama setahun terakhir. Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Untuk mendapatkan dividen, seseorang harus memiliki saham tersebut dalam periode tertentu agar diakui sebagai pemegang saham yang berhak memperoleh bagian dividen.

Dividen juga terbagi lagi dalam beberapa jenis. Ada dividen tunai yang diberikan kepada setiap pemegang saham dalam bentuk uang tunai. Ada pula dividen saham yang diberikan, sesuai namanya, dalam bentuk saham.

Nah, kalau dividen diberikan secara langsung oleh perusahaan yang sahamnya kita beli, maka capital gain diperoleh dari hasil jual beli saham yang kita lakukan. Capital gain bisa diartikan sebagai selisih harga beli dan harga jual saham. Misalnya, kita membeli saham perusahaan A di harga Rp 2.000 kemudian menjualnya di harga Rp 2.500 per saham, artinya kita sudah mendapat capital gain sebesar Rp 500 untuk tiap saham yang dijual.

(Baca:

5 Tips Memilih Saham Kala Pandemi Agar Tetap Cuan)

3. Apa saja risiko saham?

Berinvestasi di saham–sebagus apapun perusahaannya–akan selalu ada risiko yang dihadapi oleh investor, baik kecil atau besar. Seperti halnya keuntungan berinvestasi saham, risikonya juga terdiri atas beberapa macam.

Yang pertama adalahcapital loss, yakni kerugian yang diperoleh setelah transaksi jual beli saham. Misalnya, kita membeli saham perusahaan B di harga Rp 1.000 kemudian harga saham tersebut terus turun hingga Rp 600. Karena takut harganya turun lebih dalam, maka kita menjualnya di harga Rp 600, sehingga mengalami capital loss sebesar Rp 400 per saham.

Ada juga yang disebut sebagai risiko likuidasi. Risiko ini muncul jika perusahaan yang sahamnya kita miliki dinyatakan bangkrut oleh pengadilan atau dibubarkan. Dalam hal bangkrut, maka pemegang saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi.

Misalnya, kalau perusahaan A bangkrut maka aset-asetnya akan dilelang untuk membayar semua utang dan kewajiban yang dimiliki kepada para krediturnya. Kalau masih ada sisa dana dari hasil lelang ini dan pembayaran kewajiban ini, maka dana tersebut akan dibagikan secara proporsional kepada para pemegang saham. Tapi, kalau tidak ada sisa sama sekali, maka pemegang saham tidak akan mendapatkan apa-apa dan uang yang sudah diinvestasikan pun tidak akan kembali.

Berbagai risiko ini sangat mungkin terjadi, terutama ketika kondisi ekonomi sedang tidak mendukung. Contohnya, ketika awal pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh hingga ke level 4.000 dari sebelumnya berada di kisaran 6.000. Banyak sekali saham perusahaan yang melantai di bursa mengalami penurunan harga. Padahal, isu kesehatan dan pasar modal tidak berkaitan secara langsung.

4. Klasifikasi sektor dan subsektor usaha

Perusahaan-perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di BEI diklasifikasikan dalam berbagai sektor usaha berikut:

  • Agriculture, mencakup usaha pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, dan sebagainya
  • Mining, yang meliputi berbagai jenis pertambangan dan penggalian seperti pertambangan batu bara, pertambangan minyak, pertambangan nikel, penambangan dan penggalian garam, serta lain sebagainya
  • Basic industry and chemicals, yang mencakup usaha pengolahan material dasar menjadi barang setengah jadi atau pengolahan barang jadi yang akan diproses di sektor usaha lainnya. Contohnya industri kimia, semen, kemasan, keramik, dan lain-lain
  • Miscellaneous industry, yang meliputi usaha pembuatan mesin-mesin berat maupun ringan dan komponennya seperti otomotif, garmen dan tekstil, kabel, dan sebagainya
  • Consumer goods, mencakup usaha pengolahan menjadi barang jadi yang produknya bisa langsung dikonsumsi secara pribadi atau oleh rumah tangga, seperti makanan dan minuman, farmasi, tembakau, dan sebagainya
  • Property, real estate, and building construction, yang meliputi sektor properti dan konstruksi tempat tinggal, bangunan komersial, bangunan perkantoran, atau lainnya
  • Infrastructure, utility, and transportation, meliputi penyediaan dan bangunan infrastruktur serta jasa-jasa penunjangnya, penyediaan energi, transportasi dan telekomunikasi
  • Finance, mencakup perbankan dan lembaga keuangan non bank seperti asuransi, multifinance, dan lain sebagainya
  • Trade, service, and investment, meliputi perdagangan partai besar maupun partai kecil atau eceran, usaha yang terkait jasa seperti hotel, periklanan, percetakan, serta lain sebagainya

Sebelum masuk menjadi investor di saham tertentu, sangat penting untuk memahami sektor usaha di mana perusahaan itu bergerak. Dengan demikian, kamu mengetahui apa saja bisnis yang dijalankan dan risiko yang muncul dari sektor-sektor tersebut.

5. Papan pencatatan saham

Saat ini, saham yang diperdagangkan di BEI terbagi atas tiga papan pencatatan saham yaitu papan utama, papan pengembangan, dan papan akselerasi. Papan pencatatan ini menunjukkan skala usaha dan jumlah saham yang dilepas tiap perusahaan ke pasar. Dengan pembagian ini, perusahaan-perusahaan yang skalanya masih tergolong mini tidak akan dimasukkan dalam papan pencatatan yang sama dengan yang kapitalisasinya sudah mencapai ribuan triliun rupiah. Investor pun lebih mudah memantau saham-saham yang dipegangnya.

Hadirnya papan akselerasi ditujukan untuk membantu perusahaan-perusahaan yang asetnya masih berskala kecil atau menengah, tepatnya antara Rp 50-250 miliar, untuk mendapatkan pendanaan dari pasar modal. Cara ini diharapkan dapat membantu perusahaan-perusahaan tersebut untuk berkembang lebih cepat.

Perusahaan di papan akselerasi memiliki persyaratan Initial Public Offering (IPO) alias masuk ke bursa yang jauh lebih longgar dibandingkan perusahaan-perusahaan lainnya. Misalnya, menyerahkan proyeksi maksimal tahun keenam laba usaha dan bukan selama 1 tahun terakhir seperti di papan utama, serta harga penawaran awal adalah di atas Rp 50 dan bukan di atas Rp 100 seperti dua papan pencatatan lainnya.

6. Bagaimana cara bertransaksi saham?

investasi-saham

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan sebelum mulai melakukan transaksi jual beli saham. Pertama-tama, kamu harus membuka rekening saham di broker atau perusahaan sekuritas yang menjadi Anggota Bursa (AB). Lalu, membuka Rekening Dana Nasabah (RDN) di bank bersama dengan pembukaan rekening saham di broker.

Selanjutnya, menyetorkan dana ke RDN untuk bisa mulai bertransaksi. Setelah itu, kamu tinggal melakukan order beli atau order jual melalui aplikasi perdagangan saham di perusahaan sekuritas tempat kamu membuka rekening saham.

(Baca:

Cara Investasi Saham untuk Raih Untung Maksimal)

7. Bagaimana mekanisme perdagangan saham?

Perdagangan saham di BEI menggunakan fasilitas yang disebut JATS NEXT-G dan hanya dapat dilakukan oleh Anggota Bursa (AB) yang juga menjadi Anggota Kliring KPEI. AB adalah perusahaan sekuritas, yang memfasilitasi para nasabahnya–yakni para investor seperti kamu–untuk bertransaksi jual beli saham. Jadi, untuk bisa menjadi investor saham kamu harus menggunakan jasa perusahaan sekuritas.

Berikut ini beberapa hal yang perlu kamu tahu terkait dengan proses jual-beli saham:

Jam Perdagangan

Perdagangan saham tidak berlangsung selama 24 jam. Normalnya, jam perdagangan berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama adalah pukul 09.00-12.00 WIB, sedangkan sesi kedua pukul 13.30-16.00 WIB.

Namun, sejak pandemi berlangsung, BEI memangkas waktu perdagangan hingga 90 menit. Dengan perubahan ini, maka sesi pertama berlangsung pada pukul 09.00-11.30 WIB dan sesi kedua pukul 13.30-15.00 WIB. Perubahan ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan operasional Bank Indonesia (BI), yang juga lebih singkat, dalam penyelesaian transaksi surat berharga dan pasar modal.

Pasar Perdagangan

Ada tiga jenis pasar perdagangan saham, yaitu pasar reguler, pasar negosiasi, dan pasar tunai. Pasar reguler adalah jenis pasar di mana para investornya melakukan transaksi jual beli sesuai harga di dalam daftar fraksi harga. Jadi, di pasar reguler ada ketentuan batasan harga yang mesti dipenuhi baik oleh penjual maupun pembeli.

Pasar negosiasi adalah pasar di mana penjual dan pembeli tidak terpatok dalam batasan atas atau batasan bawah harga saham (fraksi saham). Aturannya lebih longgar karena mekanismenya dilakukan secara langsung oleh para pihak, meskipun tetap di bawah pemantauan dan persetujuan bursa. Karena tawar menawar harga dilakukan secara personal, maka jumlah saham per lot pun tak harus genap 100 lembar seperti di pasar reguler.

Nah, untuk pasar tunai, sebenarnya ketentuan harga dan jumlah lot sahamnya sama dengan pasar reguler. Perbedaannya adalah pembayarannya harus dilakukan pada hari yang sama (T+0), sedangkan kalau di pasar reguler pembayaran dilakukan duahari setelah transaksi berlangsung (T+2).

Satuan Perdagangan

Seperti disebutkan tadi, transaksi perdagangan saham di pasar reguler dan pasar tunai mengikuti ketentuan fraksi harga. Fraksi harga ini adalah batasan perubahan harga dalam tiap nominal harga saham yang ditransaksikan.

Kelompok Kerja

Fraksi Harga

Maksimum Perubahan*

<Rp 200,-

Rp 1,-

Rp 10,-

Rp 200,- < Rp 500,-

Rp 2,-

Rp 20,-

Rp 500,- < Rp 2.000,-

Rp 5,-

Rp 50,-

Rp 2.000,- < Rp 5.000,-

Rp 10,-

Rp 100,-

>= Rp 5.000,-

Rp 25,-

Rp 250,-

Auto Rejection

Ada pula istilah auto rejection, yang berarti perdagangan saham tertentu akan dihentikan sementara jika ada kenaikan atau penurunan yang signifikan secara tiba-tiba. Tujuannya adalah untuk melindungi investor, sehingga terhindar dari aksi spekulasi dan kerugian yang besar.

No

Harga Acuan

Auto Rejection Atas

Auto Rejection Bawah

Batasan Volume
perorder

1

Rp 50,-s.d. Rp 200,-

>35%

<Rp 50,- atau <7%

> 50.000 lot atau 5% dari jumlah efek tercatat (mana yang lebih kecil)

2

>Rp 200,-s.d. Rp 5.000,-

>25%

<7%

3

> Rp 5.000,-

>20%

<7%

8. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

IHSG adalah indeks saham acuan yang mengukur kinerja harga semua saham di papan utama dan papan pengembangan BEI. Pergerakannya akan berbeda-beda setiap hari, sesuai dengan volume dan frekuensi transaksi yang terjadi.

Pergerakan dan kinerja IHSG mencerminkan kinerja seluruh saham yang tercatat di BEI. Jadi kalau IHSG turun, artinya mayoritas saham yang ada juga mengalami penurunan. Begitupun sebaliknya jika IHSG naik, berarti mayoritas saham di BEI pun mengalami kenaikan.

Namun, IHSG bukan satu-satunya indeks yang ada di BEI. Saat ini, ada 35 indeks yang dimiliki BEI. Salah satunya adalah LQ45 yang mengukur kinerja 45 saham dengan likuiditas tinggi, kapitalisasi pasar besar, dan fundamental perusahaan yang baik. Saham-saham yang masuk dalam indeks ini seringkali menjadi incaran karena dinilai menguntungkan dan punya prospek pertumbuhan yang terjaga.

Ada pula indeks yang khusus mengukur kinerja harga per sektor industri, seperti indeks pertambangan, indeks konsumer, indeks keuangan, dan lain-lain. Khusus untuk saham-saham yang masuk kategori syariah, ada Jakarta Islamic Index (JII) yang mencakup 30 saham syariah paling likuid serta JII70 yang terdiri atas 70 saham syariah paling likuid.

Di luar IHSG, saham-saham yang masuk dalam indeks sektoral maupun indeks-indeks acuan lainnya bisa saja berubah sesuai situasi dan kondisi. Untuk indeks sektoral misalnya, perubahan bisa terjadi kalau perusahaan bersangkutan mengubah fokus bisnisnya. Untuk indeks LQ45, perubahan bisa terjadi kalau ada perusahaan yang kinerjanya turun dan ada perusahaan lain di luar indeks tersebut yang dinilai menunjukkan performa lebih bagus. Untuk indeks syariah, perubahan bisa saja terjadi kalau perusahaan terkait dinilai memiliki bisnis baru yang tidak masuk ketentuan syariah.

9. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

investasi-saham

RUPS adalah momentum di mana manajemen perusahaan bertemu dengan para pemegang saham untuk menyepakati laporan pertanggungjawaban direksi selama setahun terakhir. RUPS juga menjadi waktu di mana pemegang saham bisa menyampaikan kepuasan maupun ketidakpuasan atas strategi bisnis yang dijalankan oleh manajemen. Pergantian direksi dan komisaris pun mesti melalui RUPS agar sah. Demikian juga dengan kepastian pemberian dividen kepada para pemegang saham.

Selain RUPS Tahunan (RUPST), ada pula RUPS Luar Biasa (RUPSLB). RUPSLB digelar jika ada hal-hal penting yang memerlukan persetujuan para pemegang saham, misalnya kalau ada rencana merilis obligasi. Berbeda dengan RUPST yang digelar setahun sekali, RUPSLB bisa digelar berkali-kali dalam setahun sesuai kebutuhan atau jika jumlah pemegang saham yang hadir tidak memenuhi kuorum.

Bagi para investor pemula, penting untuk mengikuti RUPS secara langsung jika memungkinkan. Dengan hadir di RUPS, kita jadi tahu dan kenal dengan manajemen perusahaan yang sahamnya kita beli. Hal ini bisa membantu ketika kita menganalisis fundamental perusahaan tersebut.

10. Perlindungan investor

Dengan kompleksnya risiko yang ada di pasar saham, investor mendapat perlindungan dari otoritas terkait. Perlindungan ini diberikan dalam bentuk Dana Perlindungan Pemodal oleh Indonesia Securities Investor Protection Fund (SIPF), yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Singkatnya, jika investor kehilangan asetnya yang disimpan di perusahaan efek atau bank kustodian, maka Indonesia-SIPF akan melakukan ganti rugi atas aset yang hilang tersebut. Besaran ganti rugi aset investor adalah Rp100 juta per investor. Informasi lengkap tentang Indonesia-SIPF bisa kamu cek di sini.

11. Belajar menganalisis

Setelah semua hal teknis dijalankan, ada satu hal lagi yang harus dilakukan oleh investor pemula, yaitu belajar menganalisis, baik laporan keuangan maupun situasi ekonomi dan politik. Dengan membaca dan menganalisis laporan keuangan, kamu bisa mengetahui perkembangan bisnis perusahaan yang sahamnya kamu beli. Untuk mengetahui apakah fundamental perusahaan tersebut bagus, setidaknya kamu mengetahui pertumbuhan perusahaan itu dalam 5-10 tahun terakhir.

Situasi ekonomi dan politik di negara tempat perusahaan itu beroperasi juga penting untuk diperhatikan. Karena pergerakan harga saham sangat dinamis, maka rumor dan berita yang sekilas terlihat tidak signifikan bisa jadi memberikan pengaruh besar terhadap harga.

Terkadang, IHSG naik atau turun secara signifikan dalam sehari karena adanya sentimen positif maupun negatif terkait situasi ekonomi dan politik di Indonesia. Misalnya, pengumuman paket stimulus pandemi bisa mendorong kenaikan indeks karena dinilai positif pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Hal ini juga berlaku untuk masing-masing saham.

Kalau sudah memahami berbagai panduan berinvestasi saham ini, maka investor pemula seperti kamu bisa mulai berinvestasi dengan nyaman. Ingat juga, sebagai pemula, mulailah dengan modal kecil dan jangan masukkan semua investasimu ke satu saham supaya risiko kerugian yang besar bisa dihindari.

Review ulang portofolio investasimu secara berkala supaya terlihat apakah investasimu sudah sesuai target. Tapi, jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan ya, terutama kalau kamu tergoda dengan capital gain yang besar meskipun fundamentalnya tidak prospektif. Selamat berinvestasi!

(Baca:

Ini Cara Investasi Saham Online Buat Pemula Biar Untung)

More guides on Finder

Ask an Expert

You are about to post a question on finder.com:

  • Do not enter personal information (eg. surname, phone number, bank details) as your question will be made public
  • finder.com is a financial comparison and information service, not a bank or product provider
  • We cannot provide you with personal advice or recommendations
  • Your answer might already be waiting – check previous questions below to see if yours has already been asked
Finder.com provides guides and information on a range of products and services. Because our content is not financial advice, we suggest talking with a professional before you make any decision.

By submitting your comment or question, you agree to our Privacy Policy and Terms.

Questions and responses on finder.com are not provided, paid for or otherwise endorsed by any bank or brand. These banks and brands are not responsible for ensuring that comments are answered or accurate.
Go to site