GoBear is now part of Finder

Finder is committed to editorial independence. While we receive compensation when you click links to partners, they do not influence our content.

Bingung Memilih Saham yang Bagus? Ini Dia Caranya

Setelah masuk ke reksa dana, wajar jika akhirnya kamu tergoda untuk berinvestasi ke saham. Saham merupakan salah satu instrumen investasi yang sekarang cukup populer, termasuk di kalangan anak muda. Tapi, bagaimana cara memilih saham yang bagus dan layak menjadi tujuan investasi?

Banyak orang yang tertarik masuk ke saham setelah melihat orang lain mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat. Padahal, rumus investasi adalah makin tinggi keuntungan yang ditawarkan, makin tinggi pula risikonya. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum menerjunkan diri ke pasar saham.

Untuk bisa mendapatkan keuntungan maksimal, tentu saham yang dipilih harus tepat. Strategi memilih saham bagi investor dengan tujuan jangka panjang dan jangka pendek akan berbeda-beda. Demikian juga metode yang digunakan karena memilih saham pun ada rumusnya.

1. Ketahui jenis-jenis indeks

Sebelum memilih saham yang akan dibeli satu per satu, lihat dulu pergerakan indeks secara keseluruhan. Indeks acuan di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Sebagai indeks acuan, IHSG menunjukkan performa keseluruhan saham yang diperdagangkan di BEI. Dengan melihat pergerakan IHSG, kamu bisa melihat apakah tren kinerja saham di Indonesia mengalami kenaikan atau penurunan.

Selain IHSG, ada 35 indeks saham lain yang tercatat di bursa. Indeks-indeks ini ada yang dibuat oleh BEI, ada pula yang merupakan hasil kerja sama dengan pihak lain seperti media. Masing-masing indeks memiliki karakteristik dan formula pengukuran kinerjanya sendiri.

Indeks yang paling menjadi perhatian dan acuan adalah LQ45, yaitu indeks yang mengukur kinerja harga dari 45 saham berlikuiditas tinggi, berkapitalisasi pasar besar, dan memiliki fundamental perusahaan yang baik. Saham di indeks LQ45 biasanya memiliki harga yang cukup tinggi, walaupun tidak semua. Selain itu, penghuninya bisa berganti-ganti dalam periode tertentu, yang bisa kamu cek di sini secara berkala.

Ada pula indeks yang khusus mengukur saham-saham yang sesuai dengan prinsip syariah, seperti Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) dan Jakarta Islamic Index 70 (JII70). Untuk kamu yang ingin memilih saham-saham yang mempunyai komitmen lebih terhadap kelestarian lingkungan, bisa melihat indeks SRI-KEHATI.

Di luar itu, ada indeks saham sektoral yang mengukur pergerakan harga saham per sektor. Contohnya, indeks sektor pertambangan, indeks sektor aneka industri, indeks sektor barang konsumsi, dan lain-lain. Selengkapnya bisa kamu lihat di sini.

Dengan melihat indeks-indeks tersebut dan apa saja saham yang ada di dalamnya, kamu bisa mempertimbangkan saham-saham yang kinerja harganya lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan yang lain. Kamu juga dapat melihat saham mana yang harganya menunjukkan tren kenaikan dan mana yang cenderung naik turun dengan cepat. Saham yang terus menunjukkan penguatan tentu lebih menarik dibandingkan dengan yang bergerak naik turun dalam waktu singkat.

2. Analisis fundamental

Satu hal yang harus dilakukan ketika berinvestasi di saham adalah tidak malas menganalisis kinerja perusahaan yang sahamnya kamu beli. Analisis fundamental terkait dengan aspek finansial dan prospek kelangsungan perusahaan tersebut, termasuk dari sisi industrinya secara keseluruhan.

Aspek finansial yang dianalisis adalah laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan, mulai dari pendapatan dan laba, nilai buku (Price-to-Book Value/PBV), hingga rasio laba (Price Earning Ratio/PER).

Rumus menentukan nilai buku:
PBV = harga saham/book value per share*

*book value per share (nilai buku per saham) adalah jumlah ekuitas/jumlah saham beredar

PBV menjadi salah satu acuan karena dapat memperlihatkan mahal atau murahnya harga saham perusahaan tersebut. Jika PBV di atas 1, maka harganya mahal. Sebaliknya, jika PBV di bawah 1, maka sahamnya murah.

Tapi, hal ini bukan satu-satunya penentu apakah kinerja perusahaan baik atau buruk. Bisa saja nilainya saham murah karena ternyata perusahaan memiliki banyak utang. Begitupun sebaliknya.

Rumus menentukan rasio laba:
PER = harga saham/laba per saham

PER perlu diketahui karena menunjukkan tingkat keuntungan perusahaan terhadap harga sahamnya saat ini. Saham dengan PER rendah lebih menarik karena laba per sahamnya lebih tinggi dibandingkan harga saham. Ini menunjukkan tingkat return yang diterima pemegang saham akan lebih baik.

Kamu bisa membandingkan PBV dan PER perusahaan yang diincar dengan perusahaan-perusahaan lain di sektor yang sama untuk mengetahui apakah saham tersebut memang bernilai.

Dalam melakukan analisis fundamental, kamu juga harus memperhatikan kesehatan modal (ekuitas) perusahaan tersebut karena ada saja perusahaan yang mengalami defisiensi modal alias modal negatif. Hal ini bisa terjadi karena utang atau beban perusahaan terlalu besar jika dibandingkan dengan total asetnya.

Kemudian, konsistensi pertumbuhan laba dari waktu ke waktu; utang yang tidak melebihi Debt-to-Equity Ratio (DER), yaitu rasio utang dibandingkan dengan ekuitas, karena menunjukkan seberapa sehat kemampuan perusahaan membayar utang-utangnya; dan saham yang menjadi market leader.

(Baca:

5 Tips Memilih Saham Kala Pandemi Agar Tetap Cuan)

3. Analisis teknikal

Selain analisis fundamental, kamu juga bisa melakukan analisis teknikal. Perbedaan dengan analisis fundamental adalah dalam analisis teknikal, kamu cenderung fokus pada penggunaan data historis terkait perubahan harga saham, volume perdagangan, dan indikator pasar lainnya. Karena karakteristiknya ini, analisis teknikal umum digunakan di sektor komoditas atau lainnya yang sangat dipengaruhi permintaan dan penawaran.

Volume perdagangan sering menjadi pertimbangan dalam melihat gambaran menyeluruh atas kondisi pasar, sehingga dapat membantu memperkirakan tren harga selanjutnya.

Beberapa indikator yang digunakan para analis dan trader dalam analisis teknikal bermacam-macam, yaitu:

– Moving Average (MA)
Ini adalah indikator yang paling sering digunakan oleh para trader karena penggunaannya cukup sederhana. Caranya adalah menghitung harga rata-rata salah satu saham dalam jangka waktu tertentu.

– Moving Average Convergence Divergence (MACD)
Indikator MACD tidak hanya digunakan untuk menunjukkan tren harga, tetapi juga mengetahui sinyal jual atau beli suatu saham. Dalam indikator MACD, ada dua jenis garis yaitu signal line dan MACD line.

Saat MACD berada di atas nol atau positif, artinya pasar dalam keadaan bullish (naik). Sebaliknya, saat MACD berada di titik negatif, maka pasar sedang bearish (turun) sehingga sebaiknya kamu melakukan penjualan.

– Stochastic
Indikator stochastic membandingkan harga penutupan terakhir dengan kisaran harga terendah atau tertinggi pada periode tertentu.

– Relative Strength Index (RSI)
RSI dilakukan dengan membandingkan tingkat kenaikan dan penurunan harga saham. Umumnya, saham dengan RSI di atas 70 dinilai sudah overbought atau jenuh beli dan akan muncul kemungkinan turun. Sementara itu, saham dengan titik RSI di bawah 30 dinilai sudah oversold sehingga waktunya untuk dibeli.

Beberapa hal yang juga harus dipahami ketika menggunakan analisis teknikal adalah:
– Chart atau grafik saham
Support dan resistance. Support adalah titik terendah harga saham pada suatu periode, sedangkan resistance adalah titik tertingginya.

Analisis teknikal biasanya digunakan oleh investor atau trader yang memiliki target jangka pendek.

(Baca:

Investasi Saham? Ini 11 Hal yang Wajib Diketahui Investor Pemula)

4. Selalu update informasi

Terus update data dan informasi yang dimiliki. Bukan hanya mengenai perusahaan yang sahamnya kamu pegang, tetapi juga kondisi perusahaan-perusahaan lain di sektor yang sama dan kondisi industrinya secara keseluruhan. Dengan demikian, kamu bisa melakukan analisis secara komprehensif karena pergerakan harga saham sangat terpengaruh oleh rumor.

Yang juga perlu diperhatikan adalah kondisi ekonomi makro, seperti pertumbuhan ekonomi, utang pemerintah, pergerakan rupiah, angka ekspor impor, inflasi, serta kebijakan BEI atau lainnya yang berkaitan dengan pasar saham.

Berinvestasi di saham memang lebih kompleks dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya. Apalagi, pasar saham sangat mudah bereaksi terhadap isu-isu yang belum tentu benar maupun perubahaan kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, penting untuk tidak terpengaruh terhadap bisikan-bisikan yang tidak bertanggung jawab.

Tapi, empat cara memilih saham yang bagus ini bisa membantu kamu menentukan perusahaan mana yang layak menjadi sasaran investasi selanjutnya. Untuk tips tentang investasi dan pasar modal lainnya, cek terus Finder ya!

More guides on Finder

Ask an Expert

You are about to post a question on finder.com:

  • Do not enter personal information (eg. surname, phone number, bank details) as your question will be made public
  • finder.com is a financial comparison and information service, not a bank or product provider
  • We cannot provide you with personal advice or recommendations
  • Your answer might already be waiting – check previous questions below to see if yours has already been asked

Finder.com provides guides and information on a range of products and services. Because our content is not financial advice, we suggest talking with a professional before you make any decision.

By submitting your comment or question, you agree to our Privacy Policy and Terms.

Questions and responses on finder.com are not provided, paid for or otherwise endorsed by any bank or brand. These banks and brands are not responsible for ensuring that comments are answered or accurate.
Go to site