Finder is committed to editorial independence. While we receive compensation when you click links to partners, they do not influence our content.

Apakah Ada Investasi yang Menguntungkan di Masa Pandemi?

Investasi di masa pandemi memang agak tricky. Indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat terjun bebas. Perekonomian merosot, nilai rupiah terhadap dolar ikut melemah. Memang ada portofolio yang menghijau, tapi lebih banyak yang merah merona.

Betul tidak?

Dampak pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia memang bikin risau. Tapi alih-alih merasa panik, kondisi ini justru dapat menjadi alarm untuk menyehatkan kembali kondisi keuangan.

Keuanganmu mungkin sedang tidak selonggar biasanya, tapi sebisa mungkin pos tabungan dan investasi tetap terisi. Sekalipun, jumlahnya perlu disesuaikan dengan kemampuan.

Pertanyaannya, memangnya ada instrumen investasi yang aman dan menguntungkan di masa pandemi?

Kalau investasi yang menjanjikan 100 persen bebas risiko dan pasti untung besar tentu cuma khayalan. Kalaupun ada, bisa dipastikan itu adalah investasi bodong alias ilegal.

Namun, investasi dengan potensi imbal hasil yang menguntungkan dengan risiko yang bisa disiasati tentu saja ada.

Jika ingin mengatur kembali portofolio agar tidak kebakaran melulu ataupun bagi kamu yang baru ingin mulai berinvestasi, empat instrumen ini bisa jadi pilihannya.

Simak dengan teliti biar tidak salah pilih ya.

1. Obligasi negara ritel seri ORI17

Sudah memesan ORI17? Kalau belum, jangan ditunda lagi. Mumpung masih masa penawaran hingga 9 Juli 2020 nanti.

Bagi kamu yang belum tahu, ORI17 adalah ORI (obligasi negara ritel) seri terbaru yang dikeluarkan pemerintah. Investasi ORI ini cocok sebagai instrumen investasi kala pandemi karena terbilang aman, mudah, dan terjangkau.

Pokok dan keuntungan investasi dijamin oleh pemerintah sehingga uangmu tak mungkin raib. Lalu, transaksi pemesanan, pembayaran, hingga kelak pencairan dana dapat dilakukan secara online. Selama ada jaringan Internet, kamu bisa berinvestasi kapan dan di mana pun.

Yang tak kalah penting, modal investasi ORI17 ini cukup terjangkau, yaitu mulai dari Rp 1 juta. Tidak bikin nyali investor pemula ciut, kan?

Kupon investasi ORI17 sebesar 6,4 persen per tahun dan bakal langsung masuk ke rekeningmu tiap bulannya. Adapun, tenor penempatan ORI selama tiga bulan. Artinya, dana pokok investasi baru akan cair pada tahun 2023. Jadi, sebaiknya gunakanlah dana yang tak bakal digunakan dalam kurun waktu tersebut.

Meski begitu, ORI17 bisa diperjual belikan di pasar sekunder. Artinya, jika kepepet dan butuh dana, kamu bisa menjual ORI ke investor lain. Harganya bisa naik sehingga kamu bisa mendapatkan capital gain. Namun, bisa berlaku juga sebaliknya ya.

2. Deposito

Bunga deposito memang tak setinggi ORI. Tahun ini misalnya, bunga deposito berada pada kisaran 5-6 persen. Seperti yang kamu tahu, perekonomian sedang lesu, suku bunga acuan pun jadi menurun.

Namun, menempatkan dana di deposito pun bisa jadi keputusan bijak di tengah pandemi. Apalagi, kini tersedia deposito dengan tenor pendek mulai dari satu bulan, dengan penempatan dana mulai dari Rp 1 juta.

Sebagai produk perbankan, dana deposito dijamin oleh lembaga penjamin simpanan (LPS) sampai nominal Rp 2 miliar. Tak sedikit bank yang sudah berbasis digital sehingga pembukaan deposito bisa dilakukan secara online, bahkan bisa diakses via aplikasi smartphone.

Misalnya, deposito digibank dari Bank DBS atau Maxi Saver Jenius dari Bank BTPN.

Deposito adalah instrumen investasi yang paling mudah dipahami. Bunganya bersifat tetap dari awal setoran hingga dana cair kembali. Risikonya pun hanya terjadi jika kamu mengambil dana sebelum jatuh tempo, yaitu berupa penalti atau hilangnya bunga deposito.

Dengan begitu, cocok buat kamu tak mau dibuat pusing dan ambil risiko tinggi.

3. Reksadana pasar uang

Reksadana pasar uang bisa dibilang adalah jenis reksadana yang paling minim risiko, tapi return atau imbal hasilnya tetap lebih tinggi dari tabungan.

Bagi kamu yang belum familiar, investasi reksadana ini ibarat memesan masakan yang diracik seorang koki. Resep dan bahan-bahannya telah ditentukan sesuai menu yang dipilih.

Nah, menu reksadana jenis ini terdiri dari seratus persen instrumen pasar uang, yaitu deposito berjangka, obligasi dengan jatuh tempo di bawah satu tahun, serta Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Potensi return reksadana pasar uang berkisar antara 5-7 persen, tergantung kenaikan bunga penyusunnya (deposito, SBI dan obligasi perusahaan).

Jika dilihat sekilas, potensi keuntungan reksadana pasar uang tampak tak jauh berbeda dengan bunga deposito ya. Tapi jangan salah, reksadana pasar uang bebas pajak maupun biaya administrasi lain, seperti pada produk perbankan.

Sementara, bunga deposito harus dipotong pajak 20 persen. Selain itu, reksadana pasar uang pun bisa ditarik sewaktu-waktu tanpa menunggu jatuh tempo sehingga bisa diandalkan kalau ada keperluan dadakan.

Reksadana pasar uang ini cocok untuk investasi jangka pendek. Apalagi tersedia fasilitas redemption T+1, yaitu pencairan dana satu hari setelah transaksi.

Jangka waktu investasi mulai dari satu hari pun bisa. Modalnya pun terjangkau. Saat ini banyak kok reksadana pasar uang yang bisa dibeli mulai dari Rp 100 ribuan.

(Baca:

Untung Maksimal dari Investasi Reksadana. Begini Caranya)

4. Saham

Loh, IHSG sedang bergejolak begini, kok malah investasi saham?

Eits, jangan salah, meski banyak saham yang babak belur, beberapa industri justru sedang panen. Lagipula, jangan lupa bahwa investasi saham sebaiknya menggunakan mindset investasi jangka panjang. Jadi, meski sekarang sedang merangkak, peluang bisa cuan kembali beberapa tahun ke depan tetaplah ada.

Jika ingin “aman”, kamu bisa memilih sektor-sektor yang tetap aman atau malah bertambah saat pandemi. Misalnya, customer goods, kesehatan, atau teknologi.

Selain itu, kamu juga bisa mencari sektor yang terdampak namun bisa lekas pulih begitu pandemi berakhir. Tentu harus dilakukan analisis fundamental serta analisis dampak Covid-19 terhadap perusahaan terkait.

Sekali lagi, investasi saham merupakan investasi jangka panjang. Oleh sebab itu, gunakanlah uang ‘dingin’ agar tak harus terpaksa dicairkan saat nilainya sedang turun. Ujung-ujungnya malah bisa merugi atau cut loss.

(Baca:

Cara Menabung Saham agar Banjir Cuan)

Pada akhirnya, investasi juga harus disesuaikan dengan profil risiko. Kenali apakah kamu termasuk konservatif, moderat, atau agresif. Sebab, tak semua jenis instrumen investasi cocok buat semua orang.

Misalnya, kalau kamu tipe konservatif, kamu mungkin lebih cocok dengan instrumen investasi yang minim risiko, seperti obligasi ataupun deposito. Alih-alih memaksakan investasi saham tapi merasa stres sepanjang hari.

Itulah beberapa rekomendasi instrumen investasi yang bisa dipilih saat pandemi. Semoga membantu ya.

More guides on Finder

Ask an Expert

You are about to post a question on finder.com:

  • Do not enter personal information (eg. surname, phone number, bank details) as your question will be made public
  • finder.com is a financial comparison and information service, not a bank or product provider
  • We cannot provide you with personal advice or recommendations
  • Your answer might already be waiting – check previous questions below to see if yours has already been asked

Finder.com provides guides and information on a range of products and services. Because our content is not financial advice, we suggest talking with a professional before you make any decision.

By submitting your comment or question, you agree to our Privacy Policy and Terms.

Questions and responses on finder.com are not provided, paid for or otherwise endorsed by any bank or brand. These banks and brands are not responsible for ensuring that comments are answered or accurate.
Go to site