GoBear is now part of Finder

Finder is committed to editorial independence. While we receive compensation when you click links to partners, they do not influence our content.

5 Tips Memilih Saham Kala Pandemi Agar Tetap Cuan

Selama Pandemi Covid-19, nilai IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) bagai berada di roller coaster. Pertengahan maret 2020, IHSG sempat anjlok dan terus turun naik hingga hari ini. Harga saham merosot, investor pun mulai panik.

Melihat portofolio investasi yang terus minus selama pandemi memang bisa bikin gigit jari. Beberapa investor mulai mempertimbangkan menjual sahamnya di harga rendah alias cut loss demi terhindar dari kerugian yang lebih besar.

Tapi, tak sedikit yang justru merasa senang karena bisa mengeruk saham yang sedang berjatuhan. Dalam jangka panjang, harga saham yang dibeli pasti bakal naik sehingga saat dijual akan mendulang untung besar. Apakah kamu pun berpikir demikian?

Sayangnya, fakta di lapangan sering berkata lain. Tak semua saham yang merosot saat krisis bisa kembali pulih begitu masa sulit berakhir.

Lalu, bagaimana cara memilih saham yang tepat agar bisa cuan meski di tengah pandemi? Berikut ini jawabannya.

1. Pilih perusahaan dengan fundamental yang kuat

Dalam kondisi apa pun, pilihlah saham dengan fundamental yang kuat. Artinya, perusahaan memiliki kinerja keuangan yang terbukti bagus, serta memiliki prospek yang baik di masa depan.

Dengan begitu, ketika situasi krisis seperti saat ini, harga saham boleh jadi merosot namun bukan karena faktor internal melainkan faktor eksternal yang bersifat sementara.

Misalnya, banyak investor yang memilih memegang banyak cash saat pandemi sehingga terjadi penjualan saham secara masif. Maka, terjadilah hukum permintaan. Permintaan menurun, harganya ikut merosot.

Dengan demikian, ketika keadaan telah stabil, perusahaan dengan fundamental yang kuat diyakini dapat pulih kembali.

Gerbang pertama untuk mempelajari fundamental perusahaan adalah melalui laporan keuangannya. Cara gampangnya, kamu bisa kunjungi situs BEI, cari perusahaan yang ingin dianalisis, lalu unduh pada bagian laporan keuangan.

Dari situ, kamu bisa mengevaluasi sejumlah rasio penting, mulai dari pertumbuhan dari margin keuntungan, pendapatan per kuartal, kemampuan menghasilkan kas positif, hingga manajemen perusahaan.

2. Pilih saham terdampak Covid-19, asal…

Bagaimana jika saham yang kamu incar terdampak Covid-19? Pertama, penuhi dulu syarat pada poin satu. Jika sudah, selanjutnya analisa apakah perusahaan tersebut dapat pulih dengan cepat setelah pandemi berakhir.

Memilih saham terdampak punya keuntungan tersendiri, yaitu harganya bisa jadi lebih murah. Tapi, apakah setelah corona berlalu, perusahaan masih bisa bertahan atau gugur di tengah jalan?

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani seperti yang dilansir dari CNN Indonesia, ada tiga sektor yang dapat lekas bangkit usai wabah virus corona berakhir, yaitu transportasi, perdagangan, dan pariwisata.

Selain itu, industri konstruksi juga dianggap dapat lekas pulih mengingat tingginya kebutuhan infrastruktur usai pandemi. Lebih lanjut, kamu perlu melakukan riset tambahan secara cermat untuk memastikan pilihan sektor lain yang kiranya bisa rebound usai pandemi.

(Baca: Apakah Ada Investasi yang Menguntungkan di Masa Pandemi?)

3. Pilih saham yang berkembang saat pandemi

Inilah salah satu cara aman berinvestasi saham saat pandemi. Pilih perusahaan yang tak hanya bisa bertahan tapi justru berkembang selama pandemi corona, bahkan saat pandemi berlalu.

Sektor barang konsumsi tetap bakal aman mengingat makanan dan minuman adalah kebutuhan primer. Permintaan selalu ada, bahkan meningkat kala krisis. Lalu, sektor kesehatan, seperti produsen vitamin dan suplemen yang mengalami peningkatan permintaan secara drastis selama masa pandemi.

Selain itu, perhatikan perubahan kebutuhan selama pandemi. Misalnya, aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang salah satunya adalah anjuran untuk kerja dari rumah membuat sarana komunikasi jarak jauh kebanjiran permintaan. Alhasil, sektor telekomunikasi pun meraup untung besar.

4. Pilih investasi saham untuk jangka panjang

Pada dasarnya, ada dua keuntungan yang bisa didapatkan dari investasi saham, yaitu kenaikan harga (capital gain) dan pembagian dividen oleh perusahaan. Nah, imbal hasil yang diperoleh ini baru bisa optimal dalam jangka waktu yang lama.

Memang, ada saja saham berharga murah yang harganya bisa melejit dalam waktu singkat atau yang sering disebut sebagai saham gorengan. Enak, renyah, murah, tapi menyimpan penyakit berbahaya.

Saham gorengan punya risiko kerugian yang tinggi. Sekali waktu harganya melambung, tak lama harganya bisa langsung anjlok. Ini adalah jenis investasi yang sebaiknya dihindari.

Sebaliknya, investasi saham sebaiknya digunakan untuk tujuan keuangan jangka panjang. Artinya, uang pokok investasi dan potensi imbal hasilnya baru akan diperlukan minimal lima ke depan. Dengan begitu, kamu tak perlu merasa gelisah saat harga turun atau ingin buru-buru menjual ketika harga saham naik.

Oleh sebab itu, sebelum investasi, kamu wajib menetapkan dulu tujuan keuangan yang hendak dicapai. Misalnya, dana menikah, dana pendidikan anak, dana liburan ke luar negeri, dana pensiun, dan sebagainya. Sebab, tiap tujuan, punya tenor atau hold period yang berbeda, maka instrumen investasi yang dipilih pun bisa berbeda.

Untuk investasi jangka pendek atau kurang dari lima tahun, kamu bisa melirik reksadana pasar uang, deposito, maupun surat utang.

5. Gunakan strategi nabung saham

Investasi saham sebaiknya menggunakan prinsip menabung, yaitu dilakukan secara berkala. Seperti kata pepatah, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukti. Tetapkan jadwal menabung saham secara rutin setiap bulan. Cara ini dikenal juga sebagai cost averaging (CA).

Ada periode ketika IHSG dapat mengalami kenaikan, ada pula periode ketika IHSG melemah. Nah, dengan menggunakan strategi CA, kamu bisa mengambil keuntungan untuk membeli saham di harga rendah tanpa repot melakukan pengecekan berkali-kali.

Oleh karena itu, bukan hanya membuat investasi jadi terasa ringan, CA juga dapat menyiasati harga saham yang sedang fluktuatif.

Selain itu, menabung saham juga lebih efektif bagi kamu yang memiliki sumber dana dari penghasilan bulanan. Dengan begitu, kamu bisa mengalokasikan pos investasi secara rutin dan mudah.

Memilih investasi ibarat memilih pasangan jangka panjang. Perlu mengenal luar dalam, serta penuh perhitungan. Oleh sebab itu, investasi terbaik adalah investasi pengetahuan. Bekali diri dengan ilmu yang memadai sebelum mempertaruhkan dana investasi dalam jumlah besar.

(Baca: Cara Menabung Saham agar Banjir Cuan)

More guides on Finder

Ask an Expert

You are about to post a question on finder.com:

  • Do not enter personal information (eg. surname, phone number, bank details) as your question will be made public
  • finder.com is a financial comparison and information service, not a bank or product provider
  • We cannot provide you with personal advice or recommendations
  • Your answer might already be waiting – check previous questions below to see if yours has already been asked

Finder.com provides guides and information on a range of products and services. Because our content is not financial advice, we suggest talking with a professional before you make any decision.

By submitting your comment or question, you agree to our Privacy Policy and Terms.

Questions and responses on finder.com are not provided, paid for or otherwise endorsed by any bank or brand. These banks and brands are not responsible for ensuring that comments are answered or accurate.
Go to site