GoBear is now part of Finder

Finder is committed to editorial independence. While we receive compensation when you click links to partners, they do not influence our content.

5 Bukti Covid-19 Bisa Bikin Miskin dan Cara Mengatasinya

Covid-19 tidak cuma mengancam kesehatan, tapi juga kehidupan finansial. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memprediksi ratusan juta orang di dunia jatuh miskin akibat pandemi ini. Di Indonesia sendiri, ada 8 juta yang berisiko menjadi OMB alias orang miskin baru.

Sejak pandemi merebak pada Maret 2020, sudah banyak pelaku usaha kecil hingga kakap yang berdarah-darah, mencoba menyiasati situasi dengan beragam strategi. Bahkan ada yang sampai gulung tikar meski pemerintah sudah mengggaungkan new normal.

Tak pelak, bukan hanya pengusaha, orang-orang yang berstatus pekerja turut terkena dampaknya. Itulah kenapa pemerintah menggelontorkan berbagai macam bantuan kepada masyarakat, dari insentif buat pengusaha hingga subsidi gaji untuk pekerja.

Karena itu, kita patut waspada, terutama yang masih bisa leluasa mengumpulkan rupiah di tengah wabah. Tidak ada yang aman dari dampak corona. Indonesia pun sudah resmi mengumumkan memasuki masa resesi.

Agar tetap waspada, ketahui sejumlah faktor negatif yang disebabkan oleh corona dan bisa membuat kita jadi OMB.

1. Pemutusan hubungan kerja (PHK)

PHK adalah mimpi buruk buat pekerja. Dari awalnya punya penghasilan tetap tiap bulan jadi kosong melompong tak ada pemasukan. Jurang kemiskinan pun di depan mata. Memang, ada pesangon serta dana pensiun dari BPJS Ketenagakerjaan yang bisa jadi penyambung napas. Tapi tidak semua memiliki akses ke situ. Apalagi mereka yang bekerja di perusahaan kecil atau baru masuk kerja.

Sayangnya, kadang tak ada pilihan buat pengusaha selain mem-PHK karyawannya. Itu pilihan pahit yang mesti diambil demi menyelamatkan bisnisnya, juga karyawan lain yang dianggap lebih bisa memberi kontribusi dalam kerja.

Bila kamu kena PHK di tengah pandemi Covid-19, pastikan hak-hakmu terpenuhi. Mengaculah pada perjanjian kerja bersama serta Undang-Undang Ketenagakerjaan yang mengatur soal PHK. Bila mendapati masalah, bicarakan dengan bagian sumber daya manusia (HRD) di tempat kerja. Kalau masih mentok pula, kamu bisa minta bantuan serikat pekerja hingga dinas tenaga kerja setempat untuk melakukan mediasi.

(Baca:

Kena PHK saat Pandemi, Ini 5 Hal yang Bisa Dilakukan)

2. Pemotongan gaji

Bila sedikit beruntung, PHK bisa dihindari. Tapi ada pemotongan gaji. Itu artinya kamu harus siap menyesuaikan pengeluaran tiap bulan karena pemasukan berkurang. Ini berbahaya buat yang punya gaji pas-pasan dan ada tanggungan keluarga, apalagi jika masih ada beban berupa utang yang mesti dicicil.

Mungkin ada yang pemotongan gajinya berupa penundaan saja. Artinya, gaji memang dipotong tiap bulan, tapi kelak akan dibayarkan ketika situasi perusahaan sudah membaik. Ada pula perusahaan yang menukar gaji yang dipotong dengan saham. Jadi karyawan secara tidak langsung membeli saham perusahaan.

Apa pun bentuknya, pemotongan gaji akan mempengaruhi keuangan. Apalagi jika belum jelas sampai kapan. Pengetatan ikat pinggang mau tak mau harus dilakukan.

3. Pendapatan merosot

Ini dampak Covid-19 yang menimpa para pengusaha atau pekerja harian. Pendapatan jadi merosot karena pembatasan di mana-mana. Orang tak mau keluar untuk belanja karena takut tertular corona.

Dalam situasi ini, yang dihadapi mereka sama dengan apa yang dialami karyawan yang gajinya dipotong. Jumlah pemasukan berkurang. Tapi mungkin kondisinya lebih parah karena pendapatan bisa merosot drastis bahkan sampai minus.

4. Susah cari kerja

Saat tak ada pandemi Covid-19 saja bisa dikatakan susah cari kerja. Apalagi sekarang, ketika banyak perusahaan melakukan efisiensi demi mengerem pengeluaran. Risikonya buat angkatan kerja adalah tak ada pekerjaan dan penghasilan buat menyambung hidup.

5. Positif terinfeksi

Ini tidak secara langsung berhubungan dengan urusan ketenagakerjaan. Tapi orang yang positif terinfeksi Covid-19 bakal lebih rentan jatuh miskin, terutama pekerja harian atau pebisnis. Sebab, mereka harus dirawat selama berhari-hari hingga hitungan bulan. Itu artinya peluang menggenjot penghasilan dari aktivitas sehari-hari jadi sirna.

Contohnya pengendara ojek. Biasanya bisa narik tiap hari, kini harus menginap di rumah sakit atau menjalani isolasi mandiri di rumah. Atau pedagang bakso. Mustahil ia tetap berjualan ketika virus corona telah menyusup ke badan. Penghasilan jadi hilang selama masa perawatan.

Cara Mengatasi Dampak Covid-19 Buat Keuangan

Itulah tadi beberapa cara Covid-19 bisa mendekatkan orang ke jurang kemiskinan. Orang yang sudah di dalam jurang pun akan makin terperosok ke dalam. Meski demikian, ada cara untuk mengantisipasi skenario terburuk kehidupan finansial akibat pandemi itu. Berikut di antaranya:

1. Bikin dana darurat

Bila belum punya, inilah saatnya. Sisihkan sebagian penghasilan sebagai dana darurat. Dana ini tak boleh diotak-atik kecuali untuk keperluan darurat, seperti ketika kena PHK. Kumpulkan sedikit demi sedikit hingga tercapai nominal yang dianggap sebagai batas aman. Umumnya, dana darurat direkomendasikan sebesar 6-12 kali rata-rata penghasilan tiap bulan.

(Baca:

Pandemi Covid, Ini Cara Mengatur Keuangan dengan Dana Minim)

2. Mencari sampingan

Tambahan penghasilan dari pekerjaan atau usaha sampingan bisa menjadi payung pelindung ketika fondasi finansial goyah akibat Covid-19. Setidaknya ada tambahan pegangan untuk membiayai kebutuhan dasar dari penghasilan itu. Tapi jangan sampai pekerjaan sampingan mengganggu pekerjaan utama.

3. Terapkan protokol kesehatan

Pemerintah tak henti meminta masyarakat menerapkan protokol kesehatan dengan 3M: mencuci tangan, menjaga jarak, dan mengenakan masker. Dengan mengikuti protokol itu, kamu bisa menekan risiko tertular Covid-19 dan risiko harus dirawat. Risiko kehilangan potensi penghasilan selama perawatan pun bisa ditangkis.

Covid-19 telah membuat banyak negara mengalami resesi, termasuk Indonesia. Setiap warga kini harus pandai-pandai membaca keadaan dan menemukan strategi sendiri untuk tetap menjaga asap dapur tetap mengepul.

(Baca:

Resesi Ekonomi Datang, Apa yang Harus Dilakukan?)

More guides on Finder

Ask an Expert

You are about to post a question on finder.com:

  • Do not enter personal information (eg. surname, phone number, bank details) as your question will be made public
  • finder.com is a financial comparison and information service, not a bank or product provider
  • We cannot provide you with personal advice or recommendations
  • Your answer might already be waiting – check previous questions below to see if yours has already been asked

Finder.com provides guides and information on a range of products and services. Because our content is not financial advice, we suggest talking with a professional before you make any decision.

By submitting your comment or question, you agree to our Privacy Policy and Terms.

Questions and responses on finder.com are not provided, paid for or otherwise endorsed by any bank or brand. These banks and brands are not responsible for ensuring that comments are answered or accurate.
Go to site