GoBear is now part of Finder

Finder is committed to editorial independence. While we receive compensation when you click links to partners, they do not influence our content.

4 Rekomendasi Investasi Jangka Pendek yang Menguntungkan

Pentingnya investasi menjadi hal yang makin banyak disadari oleh masyarakat. Ada yang berinvestasi karena ingin memenuhi memastikan keamanan finansial di hari tua, ada pula yang melakukan investasi untuk memenuhi kebutuhan dalam waktu dekat. Apa saja rekomendasi investasi jangka pendek yang menguntungkan?

Jenis investasi yang bisa dipilih kini makin beragam, sejalan dengan tujuan investasi yang juga bermacam-macam. Investasi jangka panjang misalnya dilakukan untuk mencapai target finansial 5 tahun ke depan, seperti membeli rumah, dana pendidikan anak, atau bahkan untuk menjadi sumber pemasukan saat setelah pensiun. 

Sementara itu, investasi jangka pendek dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam waktu dekat, biasanya dengan periode maksimal 3 tahun. Misalnya, untuk digunakan sebagai modal menikah atau membeli kendaraan. 

Tentunya jenis investasi yang dipilih harus disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan investasi itu sendiri. Kenapa? Karena untuk mendapatkan imbal hasil dari investasi yang dilakukan dalam rentang waktu yang sudah ditetapkan, dana yang ada harus dimanfaatkan dengan maksimal. 

Hal ini membuat jenis investasi yang bisa dipilih untuk jangka pendek tidak sebanyak investasi untuk jangka menengah atau jangka panjang. 

1. Deposito

Deposito menjadi pilihan yang paling aman dan konvensional dalam berinvestasi. Kamu tinggal menghubungi bank dan memilih jangka waktu deposito yang diinginkan, mulai dari 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, sampai 24 bulan. Setelah itu, kamu tinggal tutup mata dan menunggu waktu jatuh tempo. 

Suku bunga deposito sekarang rata-rata berkisar 3%-5%, dengan tenor yang berbeda-beda. Makin panjang tenor yang kamu pilih, makin besar bunga yang diberikan bank. Umumnya, nilai deposito minimum di bank adalah Rp 5 juta. 

Perlu diingat juga, untuk deposito yang nilainya di atas Rp 7,5 juta, dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) sebesar 20%. Hal ini sesuai dengan ketentuan PPh Pasal 4 ayat 2.

(Baca: 

Apa Itu Deposito dan Bagaimana Caranya Agar Untung Maksimal)

2. Surat Utang Negara

Surat Utang Negara (SUN) adalah alternatif investasi jangka pendek yang cukup menarik. Kenapa? Karena investor ritel bisa membelinya mulai dari Rp 1 juta dengan imbal hasil setidaknya 6% per tahun. 

Besaran kupon alias imbal hasil SUN bisa berbeda-beda, disesuaikan dengan bunga deposito dari Bank Indonesia (BI). Selain itu, juga tergantung kondisi ekonomi nasional dan global. 

Saat ini, pemerintah cukup aktif merilis obligasi untuk investor ritel. Dana dari obligasi digunakan oleh pemerintah untuk mendukung pembiayaan proyek infrastruktur. Karena dijamin dengan proyek pemerintah, maka instrumen ini sangat aman untuk dimiliki.

Seperti halnya deposito, obligasi juga dikenakan pajak. Meski demikian, nilainya masih di bawah deposito, yaitu 15% per tahun.

3 . Reksa dana

Reksa dana bisa menjadi pilihan untuk kamu yang ingin berkenalan dengan pasar modal tetapi belum mau masuk ke saham. Instrumen ini juga dapat dijadikan ajang belajar untuk masuk ke instrumen investasi yang lebih kompleks. 

Plus, modal untuk masuk ke reksa dana sangat minim, bisa dimulai dari Rp 100 ribu. Apalagi, sekarang banyak platform marketplace yang memiliki kerja sama dengan perusahaan sekuritas untuk menjangkau investor ritel yang lebih luas. Jadi, kamu sangat leluasa dalam mengontrol investasi yang dilakukan. 

Untuk investasi jangka pendek, reksa dana yang cocok adalah reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap. Dalam reksa dana pasar uang, dana kamu ditempatkan di instrumen pasar uang yang risikonya lebih rendah dibandingkan instrumen lainnya. Tapi, karena itulah imbal hasilnya juga tidak akan sebesar reksa dana lainnya. Imbal hasilnya bisa berada di kisaran 4%-7% per tahun. 

Sementara itu, dalam reksa dana pendapatan tetap, sebesar 20% dari portofolio efek ditempatkan di instrumen pasar uang dan 80% lainnya di surat utang jangka panjang atau obligasi. Imbal hasilnya lebih tinggi dibandingkan reksa dana pasar uang, yaitu bisa mencapai 10% per tahun.

(Baca: 

Apakah Ada Investasi yang Menguntungkan di Masa Pandemi?)

4. P2P Lending

Perkembangan financial technology (fintech) bukan cuma menguntungkan bagi pihak-pihak yang membutuhkan akses permodalan yang dekat, mudah, dan cepat. Fintech Peer-to-Peer (P2P) lending juga membuka jalan untuk berinvestasi dengan cara meminjamkan uang ke pihak lain. 

Sesuai namanya, P2P lending berarti pinjam meminjam uang dari sesama. Kamu bisa ikut meminjamkan dana kepada orang lain dan mendapatkan imbal hasil dari angsuran yang dibayarkan oleh orang tersebut. 

Kalau kamu ikut serta menjadi lender (peminjam) di P2P lending yang sifatnya produktif, yaitu khusus untuk modal usaha dan modal kerja, maka dana yang kamu pinjamkan akan digunakan untuk menunjang perkembangan usaha si peminjam. Kalau kamu memilih menjadi lender di P2P lending yang sifatnya konsumtif, maka dana yang kamu pinjamkan akan digunakan untuk apapun keperluan pribadi si peminjam. 

Patut diingat, risiko dalam investasi di P2P lending cukup tinggi, terutama untuk yang sifatnya konsumtif. Hal ini karena kemampuan membayar kembali si borrower (peminjam) benar-benar mengandalkan pendapatannya. Sementara itu, untuk P2P lending produktif, ada perputaran uang dari bisnis yang dijalankan sehingga kemampuan bayarnya lebih terjamin.

Besaran investasi di P2P lending bisa dimulai dari Rp 100 ribu. Potensi keuntungannya pun cukup besar karena bunga efektif yang ditetapkan platform fintech ini bisa mencapai 18%-20% per tahun. Hal ini sepadan dengan risiko yang menyertainya. 

Jadi, investasi jangka pendek mana yang kira-kira sesuai denganmu dari empat rekomendasi ini? Manapun yang kamu pilih, resep yang harus diingat adalah jangan serakah dan terus belajar supaya dana yang kamu investasikan benar-benar ditempatkan di instrumen yang legal serta bisa terus berbuah. Mumpung waktu gajian sudah datang, yuk investasi lagi.

More guides on Finder

Ask an Expert

You are about to post a question on finder.com:

  • Do not enter personal information (eg. surname, phone number, bank details) as your question will be made public
  • finder.com is a financial comparison and information service, not a bank or product provider
  • We cannot provide you with personal advice or recommendations
  • Your answer might already be waiting – check previous questions below to see if yours has already been asked

Finder.com provides guides and information on a range of products and services. Because our content is not financial advice, we suggest talking with a professional before you make any decision.

By submitting your comment or question, you agree to our Privacy Policy and Terms.

Questions and responses on finder.com are not provided, paid for or otherwise endorsed by any bank or brand. These banks and brands are not responsible for ensuring that comments are answered or accurate.
Go to site